oleh

Wakil Ketua PWNU Jatim Gagas Ikrar Toleransi Tolak Kekerasan

  • Lestarikan Megengan, Sebagai Kearifan Lokal

GRESIK (SIBERINDO.CO) – Kearifan lokal, kebiasaan budaya menjelang Ramadan di beberapa wilayah masih terjaga. Salah satunya tradisi ‘megengan’ untuk menyonsong bulan suci Ramadan dengan saling meminta maaf dan berbagi makanan salah satunya apem.

Bagi masyarakat Sidoarjo, Gresik dan pesisir megengan merupakan bagian dari bentuk syukur dengan kehadiran bulan Ramadan. Ada nilai-nilai filosofi yang bagi generasi milineal mulai terabaikan, termasuk suguhan berupa kue apem.

Wakil Ketua PWNU Jatim Dr. KH. Moh Ma’ruf Syah menjelaskan, “Megengan” berasal dari bahasa Jawa. Artinya menahan. Memasuki Ramadhan, megengan disini dikolerasikan sebagai mempersatu toleransi umat beragama dan syukur memasuki bulan suci dengan memohon ampun kepada sang Khaliq.

“Istilah apem sebenarnya berasal dari bahasa Arab, afuan / afuwwun, yang berarti mohon ampunan. Jadi, dalam filosofi Jawa, kue ini merupakan simbol permohonan ampun atas berbagai kesalahan. Namun, karena orang Jawa menyederhanakan bahasa Arab tersebut, maka disebutlah apem,” ungkap Ma’ruf Syah, yang mempelopori acara ‘Megengan’ di Dusun Damai, Kec, Kedamaian Gresik, Ahad (11/4/2021).

Baca Juga  Hari Disabilitas Internasional, PERTUNI Magetan Gelar Baksos Pijat Gartis

Lanjut Gus Ma’ruf, sapaan akrabnya, bahwa dengan membikin kue apem dalam ‘Megengan’ ada kebersamaan di masyarakat dalam keguyuban dan kegotongroyongan, menjadi puasa Ramadan sebagai pelecut (menahan diri) dari berbagai larangan dan pantangan.

“Inilah kelebihan para walisongo untuk menyatukan budaya masyarakat setempat dengan mendekatkan diri kepada sang Pencipta. Tanpa sadar sudah terbiasa dengan saling menghargai, saling bermaaf-maafan dan hidup rukun dengan sesama muslim atau pemeluk agama lain,” ulas Gus Ma’ruf, juga pendiri Masjid Dr. HM Ma’ruf Syafi’i, Dusun Damai, Kec, Kedamaian Gresik.

Yang luar biasa dalam acara ‘Megengan’, Gus Ma’ruf, sering dikenal sebagai Penerus Gerakan Pro Demokrasi Gus Dur, mengajak tokoh umat beragama di Perumahan Kota Damai, Kedamaian Gresik, membuat ikrar Toleransi.

Baca Juga  2 Tersangka Pecandu Narkoba di Tangkap Polisi

Poin yang disampaikan, yaitu selalu menjaga kerukunan dan toleransi dan bersikap moderet sesama umat beragama dan antar umat beragama, berkomitmen pada kebangsaan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai NKRI.

Berikutnya, saling hormat menghormati, diantara umat beragama dengan dasar kasih sayang, tidak saling menghujat dan atau merendahkan satu dengan yang lainnya.

Saling menjunjung dan mengamalkan ajaran nilai-nilai kemanusiaan dan hidup berdampingan, rukun dalam bertetangga. Saling menggunakan ajaran yang mengedepankan musyawarah, kekeluargaan dalam menyelesesaikan sosial keberagaman, bila terjadi persoalan di masyarakat.

“Dari semua agama tidak ada yang mengajarkan tentang kekerasan atau radikalis dan itu di semua agama. Baik muslim atau non-Muslim. Jika ada kekerasan, tentu kami akan mengutuk keras dan mulai dari acara megengan ini, dari tempat terpencil di Dusun Damai, Kec, Kedamaian Gresik, akan menjadi pionir untuk memperjuangkan hidup penuh rukun dan toleransi antar lintas agama,” ulas Gus Ma’ruf.

Baca Juga  Sebanyak 134 PNS Lingkup Pemkab Magetan Resmi Dilantik

Pada kesempatan itu, Bupati Gresik H, Fandi Ahmad Yani alias Gus Yani sangat mengapresiasi acara megengan sebagai kontribusi penguat toleransi lentas agama yang digagas Gus Ma’ruf. Gus Yani berharap, di Gresik bisa menjadi tauladan sebagai perjuangan para walisongo.

“Saya sangat berapresiasi gagasan ini, apalagi dimalam ini pada Minggu 11 April 2021 tidak menyangka kalau acara megengan, sekaligus di ikrakan megangan sebagai pengaruh dan mepersatukan toleransi di lintas agama. Dan kami sangat mendukung ikrar ini, pada tahun 2022 mendatang akan di ikrakan secara nasional,” pungkasnya. (mat/ tos)

News Feed