oleh

Puncak Harlah ke 98, NU Sidoarjo Ziarah ke Makam Karib Gus Dur

SIDOARJO – Rangkaian kegiatan hari lahir Nahdlatul Ulama (NU), ke 98 pada 16 Rajab 1344 Hijriyah, bukan hanya menggelar dzikir, istighosah, dan kegiatan sosial. Pengurus Cabang NU (PCNU) Sidoarjo, Ahad (28/2/2021) mengadakan ziarah ke makam empat tokoh sentral yang mempunyai pengaruh dalam menggerakkan jamiyah dan organisasi NU.

Dipimpin langsung Ketua PCNU KH. Maskhun, MHi dan Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo, KH. Ahmad Rofiq Siraj, bersama pengurus harian, banom, dan lembaga dengan menerapkan protokol kesehatan, diiringi dua bus dan mobil pengawal dari Banser rute pertama mendatangi makam Drs. H. Abdy Manab, MM, mantan Ketua PCNU yang punya inovasi dan memperbaiki jamiyah hingga menjadi pioneer di Jawa Timur.

Rombongan saat tiba di areal makam, wilayah Kelopo Sepuluh, Sukodono, disambut pengurus MWC, Ranting NU dan keluarga besar. Usai doa iftitah, tahlil dan sambutan dari pihak keluarga diwakili H. Abu, adik almaghfirullah.

Baca Juga  Ada Indikasi, Busyro Karim Diganjal Pada Tatip Pemilihan Ketua PCNU Sumenep

“Kakak saya ini, nggak bikin susah keluarga. Ada kisah yang sampai sekarang terkenang, ketika dia mengumpulkan uang real disimpan dalam tas kresek hitam, tidak boleh dihitung. Ternyata, terkuak saat kami berhaji dengan keluarga, saat bertahlil kirim doa di tanah suci dan banyak jamaah bermaksud membayar, tapi kami ingat kalau almarhum sempat menitipkan uang real, maka yang ada di tas kresek kami hitung, ada tiga ribu real lebih cukup untuk membayar semua hidangan,” katanya, termasuk kepada wartatransparansi.com group newsroom siberindo.co.

Berikutnya, rombongan menuju makam almaghfirullah KH. Husein Idris, ulama dan suadagar kaya raya yang merintis NU di Sidoarjo, di Bebekan, Sepanjang, Taman.

“Beliau memang sangat peduli dengan NU, dari data menyebut tahun 1928 Kiai Husein ditunjuk sebagai Ketua, membawahi di wilayah Bebekan dan sekitarnya. Bukan hanya pikiran, tenaga, hartanya juga ditasyarufkan untuk berjuang dengan NU. Beliau penerus dari sosok para pendiri NU,” ucap Abah Agus, cucu mantu dari Kiai Husein Idris.

Baca Juga  Bupati Bondowoso Sidak Beberapa OPD, Pasca Cuti Idul Fitri 1444 H

Usai dari Kiai Husein, rombongan bergeser ke makam almaghfirullah Drs. KH. Anas Al-Ayyubi, yang areal makamnya masuk wilayah terdampak lumpur Lapindo, di Jatirejo, Kecamatan Porong. Kiai Anas, termasuk Kiai yang punya linuwih (kelebihan). Bukan hanya ulama, namun mampu memberikan motivasi kepada santri untuk bisa berdikari dan mandiri secara ekonomi.

Kesaksian, Drs. H. Alry Fauzi, MH, politisi PKB dan mantan Ketua DPRD Sidoarjo, menjabarkan kepiawaian Kiai Anas yang juga kenal akrab dengan Gus Dur, KH. Abdurrahman Wahid, presiden ke-4 Indonesia. “Beliau mampu menggabungkan sebagai ulama, cendekiawan dan interprener,” kata Gus Arly.

Baca Juga  Keindahan Tersembunyi Bukit Sekudi Wonomulyo Magetan

Terakhir, ziarah ke makam KH. Anwari Ismail, areal makam keluarga di Pemakaman Islam Kelurahan Celep, Sidoarjo kota. Dari pihak keluarga, diwakili putri almaghfirullah, Hj. Ustadzah Lilik Masruroh, mengisahkan sekelumit sosok abahnya yang sederhana, penuh kasih sayang, dan dedikasi untuk mengajarkan ilmu bagi warga sekitar.

Kiai yang dikenal keras dalam pendirian dan pernah satu pondok dengan Mbah Hamid Pasuruan (Waliyullah), sebetulnya dari keluarga yang berada, namun kesederhanaannya lebih enjoy ke mana-mana naik sepeda onthel serta mencari nafkah dari jual bahan bangunan.

“Setahu saya beliau itu menjadi rujukan ulama dalam berbagai persoalan. Saat beliau wafat, ternyata banyak pengurus PBNU yang ziarah, termasuk mendapat julukan Singa dari Sidoarjo,” tutur, salah satu santrinya, tentang profil ulama panutan tersebut. (mat/ jtm)

 

 

News Feed