oleh

Pilwali Surabaya, Potensi Terjadi Penyimpangan Jabatan

Abah Dhimam Host “Cangkrukan Demokrasi Sehat”

SURABAYA – Dr. H. Dhimam Abror Djuraid, jurnalis senior ikut berperan penting dalam proses Pilwali (Pemilihan Walikota) Surabaya. Melalui wadah “Cangkrukan Demokrasi Sehat” digelar di Hotel Mercure Mirama Surabaya Jl. Raya Darmo, Jumat (2/10/2020), memberikan pemikiran bermartabat dalam Pemilukada serentak pada 9 Desember mendatang.

Sebagai pengatur acara alias host, Abah Dhimam Abror Djuraid –sapaan akrabnya, mampu membuka cara berpikir dan menghadirkan nara sumber berbobot, diantaranya Reni Astuti, Wakil Ketua DPRD Surabaya dari PKS, Abdul Malik, SH, MH, praktisi hukum, Dr. Agus Mahfud Fauzi, pengamat politik Unesa, dan Novli Benardo Thyssen, Ketua KIPP Jatim.

“Secara khusus, kami ingin mengajak masyarakat, khususnya warga Surabaya untuk cerdas dalam mensikapi Pilwali Surabaya. Apakah, memang kesertaan semua pihak bisa bersikap netral atau berpotensi terjadi abuse of power (penyimpangan dalam jabatan) yang biasanya dimotori oleh tim Incumbent (petahana),” ungkap Abah Dhimam, juga Wakil Ketua Dewan Pakar SMSI, kemarin.

Baca Juga  Ketua Fatayat Kab. Kediri Ajak Jaga Marwah Fatayat dan NU

Paparan narasumber cukup menarik. Reni, sebagai pimpinan dewanberusaha memadukan program penggunaan anggaran dengan eksekutif, khususnya di era pandemic Covid-19. Sayangnya, respon dari eksekutif (Walikota) belum merata.

Sedang Novli mengungkapkan temuan KIPP Jatim, bahwa Walikota Tri Rismaharini melakukan pelanggaran dan patut disemprit ternyata berimplikasi adanya ancaman dan dibully. “Inilah resiko yang terjadi. Tapi, semua harus ikut aktif memantau dan pengawasi proses Pilwali berjalan sesuai aturan, jurdil dan tetap memperhatikan protokol kesehatan secara utuh,” paparnya.

Baca Juga  Hakim PN Surabaya Tolak Praperadilan Wabup Bojonegoro

Terungkap dalam majelis “Cangkrukan Demokrasi Sehat”, uraian dari Abdul Malik, potensi pelanggaran bisa mengarah pada pidana pemilu. “Tinggal bagaimana tim yang ada bisa memilah-milah, bukan sekedar optimis tanpa persiapan. Walau secara kalkulasi hukum, tim MA (Machfud Arifin) mendapat suara lebih besar,” tandas Malik.

Wawasan lebih realitas disampaikan Agus, memaparkan trik dan resep jika pasangnan Cawali-Cawawali bisa memenangkan dalam Pemilukada 9 Desember mendatang. “Menurut saya, baik MA atau Erri belum menjadi figure, capitalism yang mempunyai magnet untuk menggerakan kekuatan social masyarakat, khususnya calon pemilih. Ya, biasa-biasa saja,” ulasnya.

Hal itu, bisa jadi tim yang ada di kedua kubu, lebih percaya diri terhadap penghitungan dan mapping suara atau lupa terhadap garapan yang menjadi prioritas.

Baca Juga  Wamendagri Berkunjung ke Magetan, Pastikan Persiapan PSU 2025

“Komentar dari auden, pernah pak Machfud saat jalan pagi kemudian secara spontan sarapan bareng dengan penyapu jalanan, petugas kebersihan Pemkot. Ternyata, ada perlakuan tidak adil, sehingga terancam dipecat. Hal itu, kalau mampu dimobilisasi bukan sekedar isu internal, bisa dahsyat,” jelas Agus.

Herman Rifai, mantan Wakil Ketua DPRD dari PAN, Catur, jurnalis dan aktivis lain yang ikut urun rembuk, sepakat, bahwa Surabaya harus menjadi pioneer dan memberikan contoh Pemilukada yang bermartabat dan mampu memilih pemimpin yang punya kepedulian totalitas, khususnya mengatasi perekonomian di era Covid-19 dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (mat/jtm-1)

 

News Feed