Melongok Museum HOS Tjokroaminoto Raja Tak Bertahta di Surabaya
ALHAMDULILLAH, serba Kebetulan. Itulah kesempatan di era pandemi Covid-19 bisa menengok rumah bersejarah, sekarang menjadi Museum HOS Tjokroaminoto, di Jl. Peneleh VII No. 31, Peneleh, Surabaya. Sejarah mencatat, dari rumah “Kerajaan” seorang bergelar Raden Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, Raja tak bertahta Makhota mampu mencetak kader-kader militan tiada tanding di republik ini.
Siapa saja, tokoh bangsa dan pemuda unggulan yang pernah berguru dan nyantrik pada HOS Tjokroaminoto? Dari biografi singkat HOS Tjokroaminoto, salah satu pahlawan pergerakan nasional dilahirkan pada 16 Agustus 1882 di Desa Bukur, Madiun, Jawa Timur, Indonesia, merupakan sosok pria cerdas, berpendidikan dan dekat dengan ulama.
HOS Tjokroaminoto tercatat, pernah masuk pangreh praja setelah dia menamatkan studi di OSVIA, Magelang pada 1900. Kurang lebih selama 7 tahun ia bergabung dalam keanggotaan pangreh praja, kemudian ia keluar di tahun 1907 karena sistem pendidikan di sana yang dinilai berbau feodal.
Pemikiran kritis dan menjadi pergerakan, dimulai saat menjadi ketua Sarekat Islam (SI) di Surabaya. Dia mulai bergabung dengan SI bulan Mei 1912. Sebelum menjabat sebagai ketua SI, dia bekerja sebagai teknisi di Pabrik Gula Rogojampi.
Uniknya, dalam museum HOS Tjokroaminoto bagian belakang sebelah kiri, terpajang beberapa foto yang tidak asing dan menyebut: “Anak-anak kost Gang Peneleh”. Ya, itulah bagian dari rumah di Jl. Penelah Gang VII No. 31, berderet nama-nama kondang dan kotroversial di negeri ini. Sebut saja, Kartosoewirjo, Alimin, Muso, Semaoen, dan Soekarno.
Kartosoewirjo, bernama lengkap Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, kelahiran Cepu, Blora, Jawa Tengah 7 Januari 1905, adalah tokoh sentral pemberontakan Darul Islam (DI) dan keinginan menderikan Negara Islam Indonesia (NII) pada tahun 1949 hingga 1962. Harapan anak lurah Ronodikromo, masih keuturunan Arya Panangsang, Adipati Jipang Abad 16, kandas, akhirnya meninggal di pulau Onrust, Kepulauan Seribu, Jakarta, pada 5 September 1962.
Catatan lain, salah satu adik Kartosoewirjo yang bernama Marco Kartodikromo seorang penulis anti-Belanda berhaluan kiri. Pada tahun 1901, Belanda menetapkan politik etis (politik balas budi). Penerapan politik etis ini menyebabkan banyak sekolah modern yang dibuka untuk penduduk pribumi. Kartosoewirjo adalah salah seorang anak negeri yang berkesempatan mengenyam pendidikan modern ini.
Saat mengenyam pendidikan di ELS Bojonegoro, Kartosoewirjo mengenal guru rohaninya bernama Notodiharjo, mengikuti pemikiran Muhammadiyah. Usai lulus dari ELS pada 1923, Pemuda Kartasoewirjo bergabung dengan SI pimpinan HOS Tjokroaminoto. Selain, kost di rumah Tjokroaminoto, Kartosoewirjo juga merangkap sebagai sekretaris.
Ketertarikan Kartosoewirjo untuk mempelajari dunia politik semakin dirangsang oleh pamannya yang semakin mempengaruhinya untuk semakin mendalami ilmu politik. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila nanti Kartosoewirjo tumbuh sebagai orang yang memiliki integritas keIslaman yang kuat dan kesadaran politik yang tinggi. Tahun 1927, Kartosoewirjo dikeluarkan dari Nederlands Indische Artsen School karena ia dianggap menjadi aktivis politik serta memiliki buku sosialis dan komunis.
Kartosoewirjo juga bekerja sebagai Pemimpin Redaksi (Pimred) Koran harian Fadjar Asia. Ia membuat tulisan-tulisan berisi penentangan terhadap bangsawan Jawa (termasuk Sultan Solo) yang bekerja sama dengan Belanda. Dalam artikelnya pandangan politiknya yang radikal. Ia juga menyerukan agar kaum buruh bangkit memperbaiki kondisi kehidupan mereka, tanpa memelas.
Masa perang kemerdekaan 1945-1949, Kartosoewirjo terlibat aktif tetapi sikap kerasnya membuatnya sering bertolak belakang dengan pemerintah, termasuk ketika ia menolak pemerintah pusat agar seluruh Divisi Siliwangi melakukan long march ke Jawa Tengah.
Perintah long march itu merupakan konsekuensi dari Perjanjian Renville yang sangat mempersempit wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Karena semua perjanjian yang dibuat pemerintah Belanda menyengsarakan rakyat Indonesia, perjanjian-perjanjian semuanya hanya untuk mengelabui orang orang penting agar mereka taat kepada Hindia Belanda. Maka dari itu Kartosoewirjo menolak mentah mentah semua perjanjian yang diadakan oleh Belanda.
Berikutnya, Tiga serangkai Alimin, Muso dan Semaoen. Menurut Eko Agustiono, penunggu museum HOS Tjokroaminoto, bahwa ketiganya pernah tinggal di rumah Tjokroaminoto. “Semuanya menjadi tokoh dan kader-kader milita tanpa tanding. Yang jelas, pak Karno, itu dulu kelahiran Kampung Pandean Gg 4 Peneleh, Surabaya. Kartosoewirjo tokoh DI, sedang Alimin, Muso dan Semaoen, dedengkot PKI,” kata Eko, warga Genteng Sidomukti, kepada Warta Transparansi.Com group Newsroom Siberindo.Co, Selasa (29/9/2020).
Siapa sosok Alimin? Alimin bin Prawirodirdjo merupakan tokoh pergerakan nasional Indonesia, pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI), dan Pahlawan Nasional Indonesia (PNI). Alimin aktif dalam pergerakan nasional sejak muda, ia pernah menjadi anggota Budi Utomo, Sebelumnya ia juga anggota partai politik Indonesia pertama, Insulinde yang didirikan oleh Ernest Douwes Dekker pada 1905. Selain itu menjadi salah seorang pendiri Sarekat Pegawai Pelabuhan dan Lautan (sekarang Serikat Buruh Pelabuhan).
Alimin menjadi tokoh yang berpengaruh dalam Serikat Islam yang dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada tahun 1915 dengan nama Serikat Dagang Islam. Sebagai satu-satunya gerakan massa yang terkuat, SI menjadi target operasi Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) dapat menguasai massa dan menyebarkan paham marxisme dalam politik Indonesia, terlebih setelah kemenangan Revolusi Oktober di Rusia pada tahun 1917.
Pada 23 Mei 1920 ISDV berubah menjadi PKI / Partij der Kommunisten in Indie. Alimin bergabung dengan SI Merah yang berasas sosialis-komunis pada saat SI pecah menjadi 2, “SI Putih” yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto berhaluan kanan berpusat di kota Yogyakarta dan “SI Merah” yang dipimpin Semaoen berhaluan kiri berpusat di kota Semarang.
Alimin juga memperkuat PKI bersama dengan Musso (dari PKI cabang Jakarta) dalam kelompok Prambanan bersama dengan tokoh terkemuka PKI lainnya seperti Semaoen dan Darsono yang mendeklarasikan rencana pemberontakan di Prambanan, Solo, awal 1926 dengan target menangkap dan membunuh pejabat pemerintahan baik pejabat pribumi maupun pejabat kulit putih dan juga merusak simbol rezim kolonial termasuk instalasi publik dan instalasi batubara.
Putra Fajar Sang Proklamator
Berikutnya, biografi Singkat Ir. Soekarno – Sang Proklamator, Diktator, dan Aktivis ‘Rakyat Kecil’ Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno. Siapa yang tak kenal sosok Soekarno? Dialah sang proklamator kemerdekaan Indonesia. Tak hanya itu, ia jugalah Presiden RI pertama.
Sepak terjang Soekarno sebagai Bapak Negara RI dari beberapa sumber sejarah, memang tidak selalu berjalan mulus. Ada begitu banyak tantangan yang ia hadapi, mulai dari karier perpolitikannya hingga kisah cintanya yang tak lepas dari sorotan publik.
Ir. Soekarno atau lebih dikenal dengan sebutan Bung Karno, dimulai dari kelahirannya di Surabaya (ada yang menyebut), Jawa Timur pada 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun.
Bersama Wakil Presiden pertama Mohammad Hatta, Bung Karno salah satu Proklamator Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Selain itu, Ir. Soekarno jugalah yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai Pancasila sebagai dasar negara (ideologi) Indonesia.
Soekarno lahir dengan nama Kusno, pemberian orang tuanya. Akan tetapi, lantaran ia sering sakit maka ketika berumur sebelas tahun, namanya pun diubah menjadi Soekarno oleh sang ayah. Soekarno merupakan nama yang diambil dari seorang panglima perang kisah Bharata Yudha yaitu Karna. Nama ‘Karna’ menjadi ‘Karno’ karena dalam bahasa Jawa huruf ‘a’ berubah menjadi ‘o’ sedangkan awalan ‘su’ memiliki arti ‘baik’.
Ayah Soekarno bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya yaitu Ida Ayu Nyoman Rai. Keduanya bertemu ketika Raden Soekemi yang merupakan seorang guru ditempatkan di Sekolah Dasar Pribumi di Singaraja, Bali. Nyoman Rai merupakan keturunan bangsawan dari Bali dan beragama Hindu, sedangkan Raden Soekemi sendiri beragama Islam.
Tahun 1915, Soekarno telah menyelesaikan pendidikan di ELS dan berhasil melanjutkan ke HBS di Surabaya. Ia dapat diterima di HBS atas bantuan kawan bapaknya, HOS Tjokroaminoto. Tjokroaminoto bahkan memberi tempat tinggal bagi Soekarno di pondokan kediamannya.
Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin SI -organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu- seperti, Kartosoewirjo, Alimin, Musso, Darsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis. Soekarno kemudian aktif dalam kegiatan organisasi pemuda Tri Koro Dharmo yang dibentuk sebagai organisasi dari Budi Utomo.
Nama organisasi tersebut kemudian ia ganti menjadi Jong Java (Pemuda Jawa) pada 1918. Selain itu, dia juga aktif menulis di Harian ‘Oetoesan Hindia’, sebuah surat kabar yang dipimpin Tjokroaminoto.
Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemeene Studie Club (ASC di Bandung yang merupakan hasil inspirasi dari Indonesische Studie Club oleh Dr. Soetomo. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang berdiri tahun 1927. Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkan ia ditangkap oleh Belanda pada 29 Desember 1929 di Yogyakarta dan esoknya dipindahkan ke Bandung untuk dijebloskan ke Penjara Banceuy.
Tahun 1930 ia dipindahkan ke Sukamiskin dan di pengadilan Landraad Bandung 18 Desember 1930, ia membacakan pledoinya yang fenomenal ‘Indonesia Menggugat’, hingga dibebaskan kembali pada 31 Desember 1931. Pada Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933 dan diasingkan ke Flores.
Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya pada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hasan.
Inilah sekelumit fakta sejarah dan jejak tapak, generasi muda zaman dulu yang telah menempuh perjalanan hidup sesuai dengan pilihannya. Dan, HOS Tjokroaminoto, bukanlah seorang paranormal yang bisa membaiat para pemuda sesuai dengan arahannya. Sang Pejuang, memberikan kebebasan, Tjokroaminoto pun sempat ditangkap oleh Belanda di bulan Agustus 1921. Cukup setahun dia harus tinggal dibalik jeruji besi, kemudian dia dibebaskan April 1922. Setelah bebas, ia mendirikan markas di Kedung Jati di tahun 1922. Di tahun yang sama, ia juga mendirikan Pembangunan Persatuan.
Di bulan September 1922, dia mulai menulis dan menerbitkan sebuah artikel berseri berjudul “Islam dan Sosialisme” di Soeara Boemiputera. HOS Tjokroaminoto menghembuskan nafas terakhirnya pada 17 Desember 1934 di Yogyakarta, , karena penyakit yang dideritanya. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Pekuncen, Yogyakarta.
(Makin Rahmat dari berbagai sumber)










