oleh

Lomba Baca Puisi HUT Partai Golkar Ke-56 Gairahkan Dunia Seni Jurnalis

JAKARTA – Gairah dunia seni kalangan jurnalis yang tersita dampak pandemic Covid-19, sedikit terobati. Setidaknya, rangkaian HUT Partai Golkar ke-56, menggelar lomba baca puisi virtual melalui video guna mengajak “Jurnalis Kuat, Indonesia Maju”.

Puncak nominasi peserta penyair dari kalangan jurnalis ini dilangsungkan secara langsung dan virtual di Auditorium Abdul Muis, Gedung DPR, RI, Jakarta, Kamis (15/10/2020), dengan deretan dewan juri, Ketua Wina Armada Sukardi, disokong Presiden Penyair Indonesia Sutardji Chalzoum Bachri, Lola Amaria, dan Benny Benke, penyair dan jurnalis.

Dari proses penjaringan dan seleksi, puluhan kiriman video yang masuk, terjaring 30 peserta hingga menggerucut menjadi 10 nominasi. Akhirnya, Pangeran Negara, Putu Fajar Arcana, dan Baiq Mutia ditetapkan sebagai juara pertama, kedua dan ketiga. Sedangkan pemenang harapan satu, dua dan tiga adalah Dheni Kurnia, Ramon Damora dan Sabrina Fadilah Az-Zahra, serta juara favorit.

Kiriman dua video puisi, satu karya wajib milik penyair Chairil Anwar, WS. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Taufik Ismail dan Sapardi Djoko Damono. Dan Puisi bebas milik siapapun, juga karya sendiri.

Baca Juga  Road Race Championship 2023, Ajang Kemampuan Pembalap di Magetan

Peserta kalangan jurnalis sejumlah penyair cum dari Sumbar, Jambi, Lampung, Palembang, dan Riau. Ada Sulteng, Makasar, Jatim dan Jateng dan dan DKI Jakarta.

Wakil Ketua Umum Korbid Komunikasi dan Informasi Partai Golkar Nurul Arifin, dalam sambutannya mengaku terkejut dengan animo masyarakat, teristimewa sejumlah penyair di ajang yang kali pertama bergulir ini.

“Surprise dengan animo masyarakat. Apalagi pesertanya adalah penyair yang juga wartawan. Intinya, Golkar ingin bersama media, kalau media maju, Indonesia kuat. Golkar ingin membuat negara ini establish,” kata Nurul Arifin yang hadir mewakili Ketuua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto yang juga sempat membacakan sajak “Menatap Merah Putih”, Sapardi Djoko Damono via tapping.

Meutya Hafid, Ketua Komisi I DPR RI, yang sekaligus selalu penggagas ajang ini berharap, gelaran luar biasa ini, akan menyempurna di tahun berikutnya.

“Yang masuk (puisinya) bagus-bagus. Jadi memang tidak mudah menilainya. Apapun itu, dunia politik harus dekat dengan dunia seni, agar kita sama sama dapat berkarya dengan rasa,” kata Meutya Hafid.

Baca Juga  Apel Gelar Pasukan Operasi Lilin Semeru tahun 2020, Kapolres Bacakan Amanat Kapolri

Apa yang dikatakan Meutya Hafid dibenarkan oleh salah satu Dewan Juri, Sutardji Chalzoum Bachri. Mengutip John F. Kennedy, Sutardji mengatakan; “Jika politik bengkok, puisi akan memperbaikinya,” katanya.

Sutardji menerangkan, puisi (sebenarnya) tidak berindah-indah dan bercantik-cantik dengan kata-kata.

“Kalau mau berindah indah dengan kata-kata, (pergi) ke iklan saja. Puisi adalah ruh, harga hidup, nilai-nilai baru. Karena Puisi memberikan tambahan makna pada katakata. Ada pemberdayaan pada katakata. Perbedayaan terjadi karena imajinasi hanya bisa dilakukan dengan katakata. Tuhan mengawali semua dengan kata, kun…..,” pungkasnya sebelum membacakan sajaknya sendiri berjudul “Tanah Air Mata”, yang diawali dengan menembang “Summertime” milik George Gershwin, dengan stamina dan daya pukau yang masih luar biasa.

Menurut Lola Amaria, ada kecenderungan dewasa ini membaca sajak biasanya dilakukan dengan dramatisasi yang berlebihan. Akibatnya, pembacaan puisi justru menjadi artifisial, berlebihan (lebai) dan menjadi tidak wajar. Karena banyak yang membaca sajak dengan cara marah-marah.

Baca Juga  Acara Puncak HPN 2023 di Magetan Jawa Timur

“Hal ini menjadi makin memprihatinkan, karena pembaca sajak justru seperti kehilangan orientasi atas sajak yang dibawakannya,” kata Lola Amaria.

Di tempat yang sama, Ketua Dewan Juri, Wina Armada Sukardi mengatakan penilaian tidak parsial, tapi in toto (menyeluruh). Atau angka belakangan, karena angka menunjukkan relativitas belaka. Meski parameternya sama.

Turunannya, masih menurut Wina Armada Sukardi, tiap anggota Dewan Juri, hanya menggradasikan penilaiannya. Kemudian tinggal dicocokkan 10 nama dari masing-masing pilihan Anggota Dewan Juri. Dari 10 nama yang dikumpulkan, itu akhirnya ditemukan irisan pemenangnya. Yang sebelumnya kembali diuji nama-nama puncaknya.

Djoko Tetuko, salah satu peserta yang ikut ditampilkan dalam rangkuman video, mengapresiasi Lomba Puisi bagi jurnalis. “Salah satu kekuatan kontrol dari jurnalis adalah daya dobrak melakukan koreksi dari tulisan. Itulah bagian dari kata-kata yang mampu megubah zaman,” tukas Djoko, juga pengurus SMSI Pusat. (mat/jtm-1)

News Feed