oleh

Belajar PSBB dari Senegal

Oleh: Tofan Mahdi*)

BUKAN New Zealand, Singapura, atau Amerika. Tetapi negara yang paling sukses menangani pandemik Covid-19 adalah Senegal, sebuah negara di Afrika Barat.

Sementara itu, Indonesia masih berjuang dengan pasien positif dan jumlah kematian yang terus meningkat. Dan, karena lonjakan tersebut, pekan ini Jakarta menerapkan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) lagi.

Viral di sosial media, sebuah foto kondisi tower-tower Wisma Atlet Kemayoran Jakarta yang lampunya terang benderang di malam hari. Ya menandakan kamar-kamar tersebut full okupansi. Bukan sesuatu yang membanggakan tentu saja, tetapi cermin semakin banyaknya pasien Covid-19 yang menyerang negeri ini mulai Maret 2020.

Apakah kita gagal menangani Covid-19 ini? Mungkin harus kita akui ya. Bahkan reputasi Indonesia di mata dunia runtuh akibat kegagalan menangani covid ini. Seperti ramai diberitakan, dengan alasan semakin banyak penderita covid-19, 50 negara melarang masuk warga negara Indonesia. Sebuah luka baru yang membuat penderitaan semakin panjang.

Ke mana kita harus belajar? Tidak perlu ke negara maju yang industri medisnya sudah maju dan canggih. Tetapi tidak ada salahnya jika belajar dari negara yang tingkat kehidupan sosial ekonominya  di bawah Indonesia. Sebuah negara, mungkin masuk kategori negara miskin, tetapi berkat kebijakan pemerintahnya yang tegas dan sikap disiplin masyarakat yang tinggi, membuat mereka sukses melawan pandemik Covid-19. Negara yang bisa menjadi contoh itu adalah Senegal.

Nama Senegal, bagi warga Indonesia, mungkin tak sepopuler Afrika Selatan, Somalia, Rwanda, atau Eithopia. Tetapi jika kita menyebut kota Dakkar, mungkin banyak yang tahu. Teringat reli dunia Paris Dakkar. Ya, Senegal adalah negara Afrika yang beribukota di Dakkar. Dan kini Senegal memjadi perhatian dunia karena kesuksesannya menangani pandemik covid-19. Apa indikator kesuksesannya? Tidak ada lagi laporan pasien positif baru di seantero Senegal.

Baca Juga  LPEI Dorong UKM Berorientasi Ekspor melalui Pembiayaan dan Pelatihan Ekspor

Ada tiga hal utama yang membuat Senegal sukses menangani covid-19: rapid test dan swab yang selalu siap dan hasilnya bisa dilihat dalam waktu 24 jam, cek temparatur di semua tempat (toko dan perkantoran, dan kedisiplinan masyarakat dalam memakai masker. Ketika Amerika Serikat berada pada peringkat ke-31 dari  36 negara yang dianalisis majalah Foreign Policy dalam penanganan covid, Senegal berada di urutan kedua.

Seperti dilaporkan CNN, kerjasama masyarakat juga sangat baik dalam mendukung kebijakan pemerintah memerangi wabah yang mematikan ini. Hotel-hotel secara sukarela diubah menjadi tempat-tempat karantina. Dan para ilmuwan seakan berlomba mengembangkan ventilator berbiaya murah. Bahkan, Senegal memiliki pax test covid seharga USD 1 atau sekitar Rp 14.500 saja

Itulah yang saat ini bisa kita lihat di Senegal. Sebuah negara yang tidak memiliki system kesehatan yang baik, kekurangan rumah sakit, dah rasio dokter dan pasien adalah 7/ 100 ribu. Dengan kondisi dunia medis yang penuh keterbatasan tersebut, Senegal sukses menangani pandemik covid dengan agresif dan efektif. Lebih dari enam bulan sejak pandemik ini menyerang, Senegal mencatat 14 ribu kasus positif dengan “hanya” 284 kematian.

“Senegal sangat baik dalam menangani pandemik ini. Mengikuti pendapat para ilmuwan, pemerintahnya bertindak cepat, komunikasi publiknya sangat baik, dan terus berinovasi,” kata Judd Devermont, direktur program  Afrika di Center for Strategic and International Studies (CSIS) AS, seperti dikutip CNN.

Baca Juga  Anugerah Guru Award 2021 di Lamongan

Devermont menyebut, Senegal adalah contoh negara meskipun dengan keterbatasan dalam banyak sumber daya, namun bisa menangani covid dengan baik. Dari catatan Majalah Foreign Policy, Senegal mendapatkan poin tinggi dalam aspek kesiapsiagaan yang sangat baik dan kepercayaan kepada fakta (data) dan sains. Sementara itu, AS dinilai buruk dalam aspek komunikasi, test yang sedikit, dan berbagai keterbatasan lain.

“Dan sukses Senegal sepertinya adalah kombinasi antara komunikasi publik yang jelas dan pengalaman sukses saat menangani virus Ebola tahun 2014,” kata Devermont.

Dr Abdoulaye Bousso, Direktur Pusat Operasi Darurat Kesehatan Senegal, menjelaskan saat pandemik mulai merebak, pemerintah langsung menyiapkan langkah darurat. Ini dilakukan segera setelah WHO mengumumkan darurat kesehatan internasional pada 30’ Januari 2020. Padahal saat itu belum ada laporan pandemik Covid-19 masuk ke Senegal.

Ketika pandemik menyerang Senegal dua bulan berikutnya di mana ada satu kasus positif, Presiden Macky Sall segera menerapkan jam malam dan melakukan karantina wilayah di 14 provinsi di Senegal. Pemerintah Senegal juga meningkatkan kapasitas test massal dengan segera, menciptakan mobile labs sehingga hasil tes bisa diketahui dalam 24 jam bahkan paling cepat bisa dilihat hasilnya dalam 2 jam.

Dan Presiden Mocky Sall juga membuat janji yang dramatis: siapa saja yang hasil tes-nya positif terlepas ada atau tidak ada gejala, dijamin mendapatkan kamar dan perawatan yang memadai di luar rumah. Dan itu gratis.

Baca Juga  Dukung Pemkab Magetan, Kementrian LHK Tanam Ribuan Bambu di Eco Bamboo Park

“Jika setiap negara bisa melakukan hal seperti ini sejak awal pandemik, kita bisa dengan cepat menghentikan penularan,” kata Bousso.

Langkah kecil lain tapi sangat signifikan: setiap hari Kementerian Kesehatan memberikan update meski datanya suram, menyampaikan jumlah infeksi baru, berapa yang bisa disembuhkan, dan berapa yang meninggal.

“Jika ada enam orang yang meninggal, ya kita sampaikan enam. Jika satu, ya satu. Ini agar transparan dan untuk mengkonter adanya pendapat di masyarakat bahwa virus ini tidak berbahaya,”’kata Bousso.

Shannon Underwood, seorang pengaca keimigrasian dari Seattle AS yang pindah ke Senegal beberapa tahun lalu, terkesan dengan cara pemerintah Senegal menangani covid-19. “Jujur, saat pandemik seperti ini, saya lebih memilih tinggal di Dakkar daripada di kota-kota di AS,” kata Underwood.

Bahkan, kata Underwood, masyarakat di Senegal tidak percaya bahwa di Amerika orang masih berdebat perlu atau tidaknya memakai masker. “Banyak yang bertanya ke saya, benar begitu? Kalau di Senegal secara budaya sangat aneh dan memalukan ketika negara menghadapi pandemik, orang masih berdebat perlu tidaknya memakai masker.” Masyarakat Senegal sangat patuh, disiplin, dan menganggap adalah hal yang normal semua protokol kesehatan diterapkan di tengah pandemik sekarang. (@)

*) Penulis adalah Redaktur Tamu Harian DI’s Way dan Anggota Dewan Penasehat SMSI Jatim

Komentar

News Feed