oleh

Ketika Penyair Penyiar Terbang Melayang-Layang

 (Sehimpun Puisi “Bicaralah yang Baik-Baik” Dirut RRI – 1)

Sebagai salah satu teman lama seorang jurnalis, di beberapa bidang liputan di olahraga, budaya, politik, ekonomi dan pemerintahan. M. Rohanuddin selalu riang dalam berbagai perjumpaan dalam suasana liputan.

Ketika Rohan —biasa kami memanggil— pernah mendapat kesempatan menjadi pimpinan di RRI Surabaya, tentu saja sudah tidak lagi berpanas-panas, juga berhujan-hujan, bahkan kadang saling serobot pasang badan menunggu wawancara cegat, seperti jaman tahun 80-an.

Kali ini 11 tahun yang lalu ketika Rohan memimpin RRI Surabaya, dengan sebuah produk membuat “news room” dengan beberapa perpaduan siaran RRI untuk memberikan warna siaran secara nasional, sebagai sumbangsih dari Surabaya.

Baca Juga  Anggota Fraksi NasDem Diprank Wartawan & Kadernya

Bukan Penyair Penyiar Rohan ketika kami bercanda tidak mampu dijawab dengan kesungguhan walaupun bercampur dengan canda khas Madura.

“Wah ternyata sekarang RRI sudah siaran berwarna,” kataku bercanda.

Rohan pun membalas begitu serius bahwa program terbaru dari Surabaya memang berwarna karena news room terbuka seperti di sebuah Cafe dan lobi hotel berbintang yang memberi suguhan live musik.

Dan 2 tahun lalu ketika Rohan sudah duduk di singgah sana sebagai Direktur Utama RRI, memberitahu bahwa program streaming RRI sudah mampu menjawab siaran berwarna.

Baca Juga  Mengungkap Siapa Sebenarnya Panglima Nurhadi

Di antara kehidupan jihad di dunia penyiaran radio publik, di antara mimpi-mimpi menjadi RRI “kiblat baru” generasi mileneal dan “kiblat fanatik” generasi lama atau sentuhan jamannya. Rohan terus mengasah kegemaran menulis dan membaca puisi.

Ibarat burung perkutut, Rohan terus masuk kurungan melatih diri dengan mencakar-cakar dan kadang mematuk serta kadang di waktu sebelum subuh melatih suara emasnya.

Dan menjelang 75 tahun memperingati Indonesia merdeka di masa pandemi Covid-19 dengan semua kegiatan patuh protokol kesehatan, Rohan ibarat burung perkutut terbang melayang-layang di atas mega bersuara seperti suara emas waktu paling istimewa sholat tahajud, bersujud, beristigjfar, berdoa, bersuara, terbang melayang-layang.

Baca Juga  Pj Bupati Hergunadi Bagikan Bendera Merah Putih di Acara Festival Bambu 2025

Sebagai Sehimpunan puisi dalam untaian syair anak bangsa dari pulau garam Madura, “Bicaralah yang baik-baik”. Rohan seperti layang-layang bergambar mewah

….

betapa burung garuda

yang biasa melayang-layang tinggi dan terkadang berbaring

di langit

bertubi-tubi

terbang rendah

dari mulutnya

memuntahkan amarah besar

mengosok-gosokkan cakarnya

di atas surau-surau, dipunggung-punggung masjid,

Itu salah satu karya penyiar radio, reporter, kepala RRI di daerah, terbang rendah pun melayang-layang menjadi warna baru dan pilihan baru.  (Djoko Tetuko)

Komentar

News Feed