oleh

Mulai PTM, TK Cahaya Kita Skrening Siswa

SIDOARJO (SIBERINDO.CO) – Mulai dilakukan pembelajaran tatap muka (PTM) di era pandemi Covid-19 dimanfaatkan oleh dewan guru TK Cahaya Kita di Perumahan Magersari Permai untuk mengetahui lebih detail tumbuh kembang anak. Didukung Kenzo Learning Centre, selama empat hari melakukan Assesmen alias skrening terhadap siswa.

Menurut Kepala Sekolah TK Cahaya Kita, Lilis Suryani, SPd, ada 20 siswa kelas A dan 30 murid kelas B dilakukan uji skrening (Screening) sebagai deteksi dini terhadap kemampuan dan kecerdasan anak didik. Terutama setelah siswa yang seharusnya aktif dengan dunianya harus melakukan proses pra belajar secara daring.

“Alhamdulillah, para dewan guru dan orangtua setidaknya memiliki data tentang perkembangan anak didik, terutama bakat, kecenderungan anak, kemampuan dan kecerdasan dengan tetap memperhatikan masa kembang anak,” kata Bu Lilis dengan dewan guru, di sela-sela kegiatan tes sekrening siswa di TK Cahaya Kita, Kamis (7/10/2021).

Baca Juga  Sosialisasi 4 Pilar, Bambang DH Berharap Muncul Calon Pemimpin Muda Nasionalis dan Kreatif

Bu Lilis mengharapkan, dari kegiatan assesmen ini, siswa-siswi TK Cahaya Kita lebih mandiri dan di kemudian hari bisa menjadi generasi yang memiliki ilmu pengetahuan mumpuni, juga tidak lupa menjalankan fungsinya sebagai hambaNya yang bertakwa.

“Ya kita berdoa semoga nanti bisa menjadi generasi Imtaq. Segala cita-citanya dapat teraih dan memberikan kemamfaatan bagi sesame,” ulas Bu Lilis, didampingi Bu Ida dan Bu Wiji.

Kordinator Kenzo Learning Centre, Farra Lailatus Saidah, S.Psi, M.Psi, menjelaskan, kegiatan skrening bagi siswa PAUD atau TK merupakan bahan yang harus diketahui oleh orangtua dan guru dalam melakukan pendampingan dan memberikan arahan dalam aktifitas di sekolah, luar sekolah (lingkungan) atau di rumah.

Baca Juga  Gudang Sabut Kelapa di Rogojampi Banyuwangi Terbakar

“Kami melakukan tes sejak Senin hingga Kamis. Kegiatan ini merupakan deteksi dini bila terjadi gangguan atau perubahan prilaku dari anak didik. Setidaknya, dari data awal diketahui perkembangan tumbuh kembang anak dari IQ (intelegensi), prilaku dan kemampuan lain yang bisa disalurkan dalam keseharian secara normal,” tandas Farra, alumni S-1 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.

Langkah berikutnya, lanjut Farra, dokumen anak dan faktor-faktor yang bisa memberikan pegangan bagi pengajar dan orangtua terhadap potensi anak. Contoh, bila menemui anak hiperaktif atau cenderung pendiam, sebagai pendamping tidak boleh asal menvonis, semua harus melalui telaaah dan pertimbangan paedagogik dan arahan edukasi yang memberikan perkembangan positif bagi anak.

Baca Juga  BPS: Jumlah Pengangguran di Tuban Capai Lebih 32 Ribu Orang

“Kalau sampai salah penanganan yang jadi korban anak-anak yang nantinya tumbuh kembang menjadi remaja dan dewasa. Jadi, menemui anak yang mungkin agak terlambat, bukan berarti anaknya lemah dalam kecerdasan, sebaliknya ada potensi luar biasa yang belum bisa digali.

“Maka kewajiban kita untuk segera melakukan konsultasi dalam mendidik anak, agar tidak salah asuh dan bisa memberikan kasih sayang secara benar,” pungkas lulusan S-2 Untag Surabaya. (mat/jtm)

News Feed