oleh

Yayasan DHMS Siap Cetak Pemimpin Berakhlak

Ketua DPD LaNyalla M Mattaliti saat meresmikan madrasah ibtidaiyah yayasan DHMS didampingi Dr. H. Mar’uf Syah, pembina yayasan.

LAMONGAN (SIBERINDO.CO) — Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, mengatakan negara kekurangan orang beretika dan bermoral. Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya Lembaga Pendidikan mencetak generasi yang berakhlak dan beradab. Bukan sekedar mencetak siswa atau santri yang cerdas saja.

“Negara ini krisis orang-orang yang memiliki etika, moral dan adab,” kata LaNyalla saat meresmikan Gedung Yayasan DHMS Lamongan, Jawa Timur, Jumat (1/7/2022).

Ditegaskannya, esensi dari tujuan Pendidikan Nasional adalah menghasilkan kaum terdidik atau intelektual yang beretika, yang bermoral dan berbudi pekerti luhur seperti para pendiri bangsa.

“Makanya saat memberi kata pengantar buku 1 Abad Taman Siswa, saya sampaikan pentingnya membumikan kembali semboyan yang digagas Ki Hajar Dewantoro. Yaitu Ing ngarso sung tulodo; Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani. Karena menurut saya itulah etika. Itulah moral. Itulah budi pekerti atau akhlak. Yang seharusnya menjadi esensi dari tujuan Pendidikan Nasional bangsa ini,” paparnya.

Baca Juga  Peringati Hari Pahlawan, Sarmuji Minta Keris Sebagai Budaya Leluhur Harus Dilestarikan

Menurut LaNyalla, mereka yang bermoral, beretika dan memiliki akhlak inilah, yang harus menjadi para pemimpin bangsa. Mereka inilah para hikmat yang memiliki kebijaksanaan. Mereka inilah yang harus ditimbang pendapatnya dalam musyawarah untuk menentukan arah perjalanan bangsa.

“Bukan mereka yang lahir dari pencitraan dan survei-survei yang dibuat untuk mempengaruhi persepsi publik. Karena popularitas sama sekali tidak ada hubungannya dengan etika, moral dan akhlak,” kata dia lagi.

Menurut LaNyalla, akhlak dan adab adalah fondasi dari generasi bangsa. Tanpa akhlak dan adab, generasi bangsa ini tidak akan memiliki karakter dan ketahanan di tengah kondisi negara Indonesia yang semakin sekuler, liberal dan kapitalistik.

Karena terus terang saja, negara ini telah meninggalkan Pancasila sebagai grondslag bangsa ini. Dimana kedaulatan rakyat di dalam sistem demokrasi perwakilan yang didesain oleh para pendiri bangsa sudah terkikis dan hilang.

Baca Juga  Siap Menangkan Golkar, MKGR Jatim Lantik 4 Organisasi Jajaran

Puncaknya dari semua itu adalah saat dilakukannya Amandemen Konstitusi pada tahun 1999 hingga 2002 silam dengan cara yang ugal-ugalan dan tidak menganut pola addendum. Sehingga kita menjadi ‘bangsa’ yang lain dan tercerabut dari akar sejarahnya.

“Karena itulah dengan menghasilkan generasi bangsa yang berakhlak dan beradab, Insya Allah kita akan dapat mengembalikan Indonesia kepada Pancasila sebagai negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Kembali kepada demokrasi asli bangsa ini yang pendekatannya konsensus. Bukan dengan pendekatan mayoritas,” tukasnya.

“Semoga para siswa dan santri yang dididik di Yayasan DHMS ini menjadi salah satu dari generasi yang berakhlak dan beradab tersebut. Sehingga perjuangan untuk mengembalikan Indonesia kepada nilai-nilai luhur yang digagas oleh para pendiri bangsa semakin cepat terwujud. Sehingga Indonesia ke depan akan menjadi bangsa yang berdaulat, berdikari dan mandiri,” tutupnya.

Baca Juga  Dihadapan Wisudawan Pati, Kapolri Bertekad Wujudkan Polri Semakin Dicintai Masyarakat

Hadir dalam acara tersebut Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar, Ketua Dewan Pembina Yayasan DHMS, H Makruf Syah, Ketua Pengurus Yayasan DHMS, Ahmad Anas Faqih, Para Tokoh Masyarakat, Para Ustadz, Wali Santri dan para Santri.

Ditambahkan Dr. KH. Mar’uf Syah, SH MH, peresmian gedung berlantai 3 untuk kegiatan Madrasah Ibtidaiyah (MI), guna menjawab tantangan zaman yang kian komplek terutama aspek moral bangsa. Yayasan DHMS hadir dengan jaminan mutu tahfid dan juga pelajaran umum serta siap mencetak pemimpin berakhlak.

“Jadi setelah berhasil membuat masjid DHMS,
Kini Dr. H. Ma’ruf Syafii mendirikan Sekolah Madrasah Ibtidaiiyah menelan biaya Rp 1,9 miliar swadaya murni bertaraf jaminan mutu. Jadi, memang dituntut untuk berbuat secara nyata, terutama dalam dunia pendidikan,” ujarnya. (mat)

News Feed