oleh

Ini Penjelasan BMKG soal Puting Beliung di Sumenep

Surabaya – Puting beliung menerjang dua desa di Kecamatan Kalianget, Sumenep, Madura pada Sabtu (3/4). BMKG Juanda Surabaya menyebut fenomena ini dengan sebutan waterspout.

Dalam laman resmi BMKG Klas I Juanda Surabaya dipaparkan, waterspout juga dikenal sebagai istilah belalang gajah. Yang berarti kolom pusaran air yang tertarik masuk ke dasar awan.

Dijelaskan pula jika waterspout ini sama seperti puting beliung, tetapi terjadi di atas permukaan air. Namun, hanya jenis awan cumulonimbus yang bisa menyebabkan fenomena ini.

Baca Juga  Hujan Lebat Disertai Petir Mulai Pagi hingga Malam Bayangi Kota Surabaya

Kasi Data dan Informasi BMKG Klas I Juanda Surabaya, Teguh Tri Susanto mengimbau masyarakat untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Karena di masa pancaroba ini, rawan tumbuhnya awan cumulonimbus.

Teguh menambahkan, awan cumulonimbus dominan tumbuh di wilayah pantai hingga dataran tinggi. Sedangkan kejadiannya bersifat lokal dan dalam waktu yang relatif singkat.

“Di masa pancaroba pertumbuhan awan cumulonimbus akan lebih dominan di sekitar wilayah pantai dan dataran tinggi,” kata Teguh kepada detikcom di Surabaya, Senin (5/4/2021).

Baca Juga  Alumni Akpol 93 Bagikan 500 Paket untuk Anak Yatim dan Tukang Becak di Halaman Mapolrestabes Surabaya

Kendati demikian, Teguh menegaskan jika awan cumulonimbus tidak selalu menyebabkan puting beliung atau fenomena waterspout.

“Tetapi tidak selalu jika ada awan cumulonimbus akan terjadi puting beliung,” imbuhnya.

Sebelumnya, puting beliung menerjang dua desa di Kecamatan Kalianget, Sumenep, Madura. Akibatnya puluhan bangunan rumah warga, masjid dan gudang penyimpanan garam porak-poranda. Selain itu 3 orang luka ringan dan sempat dirawat di Puskesmas Kalinget.

Baca Juga  Ketua Fraksi Golkar DPRD Jatim, Kodrat Sunyoto Gelar Reses I Tahun 2022 di Dapil XIII

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 13.00 WIB, Sabtu (3/4) ini menerbangkan dan menggulung atap rumah, masjid dan bangunan dua desa serta menumbangkan pohon dan tiang listrik. Total ada 10 bangunan dan 8 rumah rusak di dua desa dampak cuaca ekstrem. (*/cr4)

 

Sumber : news.detik.com

 

News Feed