Pandemi Covid-19, Sembelih 35 Ekor Sapi
BERAWAL dari wejangan guru ngaji, ulama kampung, anjuran belajar dan terus berikhtiar untuk patuh pada aturan Allah. Taat pada Allah, Rasulullah, dan pemimpin serta berbuat bakti kepada kedua orangtua. Tidak perlu risau bila ingin memulai sesuatu yang positif, walau bukan bersifat kewajiban. Selama mempunyai sandaran kuat dan memberikan kemanfaatn, maka lakukan!.
Panduan firman Allah di dalam surat Al-Kautsar: “Sesungguhnya Aku (Allah) telah memberi manusia kenikmatan luar biasa (yaitu) sungai Kaustar. Maka, segera dirikan salat dan berkurbanlah!” pelajaran saat Madrasah Ibtidaiyah (MI/ SD) memberikan motivasi luar biasa untuk tetap melakukan aktifitas ibadah di masjid Siti Suci Nur Rohmah, Perumahan Magersari Permai, Sidoarjo, kebetulan saya ditunjuk sebagai Ketua Takmir.
Sejak gonjang-ganjing wabah virus Corona atau Covid-19 masuk ke Indonesia bulan Februari lalu, mulai muncul kasak-kusuk, bahwa tempat ibadah, termasuk masjid menjadi bagian yang harus mengikuti aturan protocol kesehatan, guna memutus menjalarnya Covid-19 yang semakin jalang dan liar, tak terkendali. Ibadah cukup di rumah.
Hasil dialog dan silaturrahmi dengan ulama, tokoh masyarakat, diantaranya Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur, Drs. KH. Abdushomad Buchori, Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo Romo KH. Ahmad Rofiq Siroj, serta beberapa petugas Gugus Tugas (Gusgas) Penanganan Covid-19, maka pilihan saya bagaimana pun kondisi yang terjadi, selama rumah Allah dalam ikhtiar dan memohon doa dan tempat suci otomatis kegiatan ibadah maghdlo maupun ghoiru maghdlo harus tetap berjalan.
Tentu saja, bukan asal mengambil keputusan. Dari berbagai pertimbangan, dan konsekwensi sebagai Ketua Takmir mengeluarkan kebijakan diantaranya, salat lima waktu berjamaah tetap dilaksanakan, salat Jumat juga oke. Begitu pula, kegiatan kemaslahatan dan memperbanyak istighfar, membaca kalimat thoyyiba serta rutin membaca surat-surat tertentu, seperti Yatin, tahlil dan istighosah hari Kamis, membaca surat Kahfi dan surat Waqiah pada hari Jumat. Sedang pengajian tafsir dan hadist Ahad pagi ditiadakan, karena pengisi memilih di rumah.
Saya sendiri, bukan berarti lantas bertabrakan dengan arahan dari pemerintah. Mulai dari fatwa MUI, Peraturan Gubernur (Pergub) hingga Perbup kami ikuti dan pelajari. Sekali lagi, keseimbangan menjaga semangat jamaah untuk cinta masjid bukan pekerjaan mudah. Begitu, Jawa Timur, khususnya Surabaya Raya (Surabaya, Sidoarjo dan Gresik) masuk zona merah, Takmir mendapatkan sorotan, cibiran dan sumpah serapah karena tetap nekat menjalankan aktifitas ibadah, bukan memilih lock down, menutup masjid.
Memang pilihan sulit. Akhirnya, saya memutuskan masjid SSNR sebagai kawasan masjid bermasker, wajib cuci tangan, disemprot disefektian, periksa suhu dengan termogun dan seterusnya. Apalagi, ada salah satu warga (bukan jamaah) dinyatakan positif Corona, cibiran semakin kencang. Bak topan badai. Hampir separuh jamaah memilih kerja dan ibadah di rumah. Ada beberapa kegiatan pengajian umum, batal. Sampailah pada kesimpulan, membagi aspirasi jamaah. Bagi yang menginginkan fisical distancing (jaga jarak), maka difasilitasi di serambi masjid. Sebab, ada separuh jamaah lebih sreg salat dengan shof lurus dan rapat.
Alhamdulillah, dari beragam ujian terkait kengototan saya tetap membuka masjid. Sebagian jamaah memberikan respon positif. Saat Ramadhan tiba, takmir tetap menggelar salat taraweh, pengajian Ahad pagi, dan takjil bersama. Tentu tidak asal menyetujui, keseimbangan mengikuti protokol kesehatan tetap menjadi SOP, mendisiplinkan jamaah lingkungan perumahaan, wajib bermasker, cuci tangan dengan sabun, dan periksa suhu, butuh ketelatenan.
Sedikit terobati, saat Ramadan shaf hampir penuh. Bahkan, saat sepuluh hari terakhir, masjid dijadikan tempat maleman. Kebetulan, di akhir Ramadan, pengurus takmis juga bagian dari TPHQ (Tim Penyembelihan Hewan Qurban) lewat program menabung, masih jalan. Dari hasil rembukan dan peluang untuk melaksanakan rangkaian ibadah Idul Adha, diperkirakan bisa menyerap 20 ekor sapi masuk program tabungan.
Di luar prediksi, diskusi dengan Sekretaris Takmir, R Bahar Junaidi yang menjadi leader program tabungan hewan kurban bersama H. Zahrul Huda ikut tertantang memberikan yang terbaik. Maka, sering dilakukan dialog dan diskusi mengantisipasi berbagai kemungkinan, bila kurban dilaksanakan.
Menjelang, 3-H (28 Juli 2020), masih tercatat positif ada dua puluh ekor sapi. Ternyata besoknya, Allah menggerakkan hambaNya untuk berkurban. Seperti ada hipnotis, hingga terkumpul 30 sapi program tabungan dan 5 sapi kurban secara mandiri (dari satu keluarga).
Terlihat, hanya beberapa panitia yang super sibuk dan dibantu rekan remaja masjid (Remas) yang selama pandemic Covid-19 sangat membantu kebijakan takmir, dengan ikut piket memeriksa jamaah yang datang. Bila lupa memakai masker diingatkan. Situasi tersebut, fleksibel dengan catatan bila saat iqomah, jamaah baru datang, maka diberi masker. Sebaliknya, jika terlihat disengaja atau memang ragu-ragu, petugas di masjid tidak segan mengingatkan.
Hal unik lagi, hampir selama wabah Covid-19, kami juga mengagendakan baca qunut nazilah dalam salat fardlu, termasuk saat taraweh sebulan penuh. Beberapa jamaah merasa belum terbiasa. Setelah dijelaskan dan tujuan dari program tersebut, bisa memahami.
Efek tetap pada kebijakan sedikit menantang, saat rapat mempersiapkan rangkaian kegiatan Idul Adha sempat terjadi Tarik-ulur. Hampir sebagian besar meminta menunda pelaksanaan kurban pada hari Sabtu/Minggu (hari tasyriq). Karena dari kalender dan rukyatul hilal, 10 Dzulhijjah jatuh pada haris Jumat (31/7/2020). Saya pun memutuskan sebagai pilihan tengah, pertama meniadakan takbir keliling, tetap mengadakan kurban dengan sasaran Panti asuhan, yayasan yatim-piatu, duafa’, fakir-miskin, dan daerah-daerah minus karena dampak Covid-19.
Sempat terjadi kegundahan, karena tim inti yang biasa menjadi panitia Idul Adha memilih tidak pulang, karena masalah pekerjaan dan prokoler yang harus dijalani. Saya pun hampir tiap waktu, sehari bisa 4-5 kali melakukan kordinasi. Apalagi, Sekretaris Takmir sendiri sibuk pula mendata jadwal khotib imam selama tahun 2021 dan iman salat taraweh.
Sekdakab (Sekretaris Daerah Kabupaten) Sidoarjo H. Achmad Zaini, MSi yang juga penasehat Takmir masjid SSNR sempat mengusulkan, bila memang aktifitas ibadah tetap berjalan bisa diusulkan rapit tes. Sekali lagi, itulah ujian dan tantangan untuk memotivasi jamaah optimis dan memberikan kenikmatan lahir-batin dalam beribadah.
Tanpa diduga, laporan menjelang 1-H, dikabari kalau jumlah sapi yang dipotong secara koletif ada 30 ekor dan lima lainnya secara mandiri. Kami pun melakukan gerak cepat dengan memberitahukan ke petugas Polsek dan Polresta Sidoarjo, tentang kegiatan kurban yang bisa menyedot ribuan masyarakat.
Pernik-pernik cemohon, ujian, cibiran dan semangat Jemaah yang rawe-rawe rantas malang-malang putung menjadi pelecut takmir untuk melayani dan memberikan yang terbaik. Dukungan puluhan remas memberikan dorongan spiritual, yang muda bisa yang tua harus tut wuri handayani.
Sata hari “H” ujian pertama salat Idul Adha dan dilanjutkan Kutbah oleh Khotib DR. Drs. H. M Amir Shollahuddin, MPdI lancar, walaupun lupa membaca qunut nazilah. Saat doa, ceremonial penyembelihan banyak jamaah meneteskan ari mata, karena kondisi jamaah Indonesia gagal berangkat.
Enam jagal professional yang didatangkan panitia, malah membuat kewalahan tim pencacah daging dan bagian penimbangan. Alhamdulillah, sebelum salat Jumat, tepatnya pukul 11.15 WIB seluruh panitia diistirahatkan, kecuali remas putrid an ibu-ibu muslimat masih sibuk di dapur dan melakukan penimbangan hewan.
Tantangan muncul, karena skenario menutup jalur masuk ke perumahan dengan mengunci portal di tiap blok ternyata bobol. Akhirnya, ribuan masyarakat dari berbagai daerah berusaha menerobos ke aeral halaman masjid. 5 petugas dari Polresta dan Polsek Sidoarjo kebingungan. Saya pun turut tangan, harus mengumunkan ulang lewat pengeras/ corong masjid, bahwa panitia tahun ini hanya melayani permohonan dari dari yayasan, panti, mushola, langgar dan masjid yang telah terdaftar. Kisaran 4000 bungkus.
Ternyata, keyakinan untuk tidak membuat kita sedih, susah, khawatir dan tetap optimis menjadikan terobosan panitia, terutama Ir. H. Gatot Sarworubedo, saat ini menjadi anggota DPRD Kabupaten Lumajang menghitung kemungkinan warga tetap membludak. Akhirnya, sejumlah 850 bungkus terbagikan dengan tetap mengikuti protap kesehatan Covid-19. Allahu-akbar, Allahu-Akbar, Allahu-Akbar Walillahilham.
Inilah bagian dari takdir. Saat kondisi normal tahun 2019 panitia Idul Adha menampung 33 ekor sapid an 26 kambing. Ternyata, dalam siatuasi pandemi Covid-19, Idul Adha 1441 bisa menyerap 35 sapi dan 33 kambing. Ya, air mengalir saja, biar Yang di Atas Maha Mengatur segalanya. Kita yang masih diberi kesempatan hidup di bumi hanya bisa melangkah dan berpijak kaki ke bumi.
Saya tetap yakin, di balik perintah baik itu wajib atau sunnah ada tuntutan hikmah bila melaksanakan. Sebaliknya, bila larangan, walaupun puasa termasuk dianjurkan, tapi saat hari tasyriq menjadi haram alias dilarang. Begitu pula, saat Allah memerintahkan Nabiyullah Ibrahim al-Khalilullah untuk menyembelih anaknya Ismail AS, ada banyak pelajaran dan butiran mutiara hikmah. Setidaknya, keseriusan kita untuk menyembelih nafsu dan sifat serakah manusia dan terlalu cinta dunia. Ingat, selama kaki masih bisa melangkah pasti ada tujuan yang bakal tergapai. Barokallah. (*)











Komentar