MAGETAN | JATIM.SIBERINDO.CO – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magetan, menggelar bedah buku dan diskusi bareng “Kisah Brang Wetan dan Lawu Wilis”, sebagai peratapan sejarah bagi wilayah Kabupaten Magetan.
Bedah buku tersebut dilaksanakan di Pendopo Surya Graha Magetan, baik secara langsung maupun virtual, dengan menghadirkan Peter Carey, seorang Profesor Tamu FIB-UI dan Emeritus Fellow, Trinity Collage, Oxford, Kamis (28/10/2021).
Berangkat dari rasa cintanya terhadap sejarah, Peter Carey telah menerbitkan buku trilogy Madiun Raya, yang diluncurkan secara resmi bersamaan dengan diskusi bedah buku Kisah Brang Wetan dan Lawu Wilis.
Dr. Catrini Pratihari Kubon Tubuh, selaku Direktur Eksekutif Yayasan Arsari Djojohadikusumo, juga menyampaikan apresiasinya kepada Pemkab Magetan sebagai salah satu Kabupaten Literasi yang menjadi tuan rumah dalam acara peluncuran buku ini.
“Harapannya, buku ini nantinya, mampu menarik dan menaikkan gaung pentingnya sejarah lokal,” jelasnya, Kamis (28/10).
Dalam sambutannya, Bupati Magetan menyampaikan keinginannya agar Kabupaten Magetan memiliki catatan sejarah yang hebat berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, dulu pemerintah terhambat kesulitan dalam menemukan informasi mengenai sejarah Kabupaten Magetan. Atas capaian tersebut, kini dapat menelurkan kebijakan yakni, mewajibkan sekolah dan desa di wilayah Magetan agar menulis sejarahnya masing-masing.
“Jika dulunya nenek moyang mencatatkan sejarah pada prasasti, kini tugas kita semua untuk meneruskan, mencatatkan sejarah bagi anak cucu kita kelak,” pinta Bupati Magetan.
Sebagai informasi, antara Lawu dan Wilis’ adalah buku yang berisi arkeologi, sejarah dan agenda Madiun Raya, berdasarkan catatan Lucien Adam Madiun (1934-1938). Artikel tersebut mengandung informasi penting mengenai sejarah Madiun Raya sejak abad ke-10 hingga ke-19.
Kini wilayah Madiun Raya telah menjadi berbagai Kota dan Kabupaten, yaitu Madiun, Caruban, Ponorogo, Pacitan, Ngawi dan Magetan.
Sedangkan ‘Kisah Brang Wetan’ adalah buku yang ditulis berdasarkan Babad Alit dan Babade Nagara Patjitan. Tidak hanya menyajikan sejarah Ponorogo dan Pacitan, namun juga seluruh Madiun Raya. (Ren/Redk)










