SURABAYA, jatim.siberindo.co – Ketua Yayasan Lembaga Perlindungan Konsumen (YLPK) Jawa Timur, Drs Muhammad Said Sutomo, menyayangkan adanya penundaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM).
Dalam rapat koordinasi persiapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Surabaya, Jumat (25/06) kemarin. Mayoritas peserta rapat minta PTM ditunda, menyusul Covid-19 yang kian mengganas.
” Kalau terus ditunda, lalu kapan dimulainya. Sementara pelaksanaan prokes dan segala upaya penanggulangan covid-19, hingga sekarang juga belum ada yang efektif,” ujar Said Sutomo, Sabtu (26/06).
Menurut dia, baik vaksin, test antigen, GeNose masih membuat semua ragu, apalagi sampai menggelar PTM. Di sisi lain, banyak anak didik kita terlalu lama di rumah, tidak pernah masuk sekolah, tiba-tiba naik kelas dua setingkat di atasnya.
” Apa kita juga tidak bingung, selama ini yang menonjol dari penanganan Covid-19 adalah kebingungan semata. Sehingga seluruh langkah atau kebijakan menjadi rancu,” terang Said panggilan akrabnya.
Said menuturkan, misalnya waktu lebaran kemarin mudik dilarang, namun tempat wisata tetap dibuka, mudik dilarang tetapi TKA terus berdatangan. Bahkan ada yang sampai sewa pesawat dari India.
“Kita diketati soal prokes (protokol kesehatan), tetapi kita melupakan kekuatan doa, sehingga anak-anak sekolah hanya sibuk prokes, dan lupa akan kehebatan doa,” tutur Said.
Ke depan, sambung Said, generasi ini dikhawatirkan akan menjadi sekuler sekali.
” Saya menyarankan agar 5M (menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker, menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas) ditambah dengan B (berdoa),” ucapnya.
Said menambahkan, ini harus yang disosialisasikan dengan masif, anak-anak kita sudah melupakan doa, yang mereka perhatikan hanya masker semata.
” Ini jelas potret buruk masa depan. Doa dapat menjadi bentuk ketaatan kepada sang pencipta, melalui doa kita bisa menyampaikan harapan kepada Allah SWT,” tandasnya.
(red/ard)










