Muharam Mubarok, Tahun Baru 1442 Hijriyah Berselimut Covid-19 (3)
Harus diakui, perayaan tahun baru Hijriyah mengalami bergeseran sesuai dengan makna dan zamannya. Walau masih berselimut Covid-19, peradaban budaya dan tradisi masyarakat belum bisa sirna kembali ke khittah ajaran ilahiyah.
Merunut berbagai kisah dan sejarah masa lalu yang dialami para Rasul, Nabi dan hamba pilihan tentu tidak lepas dari tantangan dan penyimpangan penguasa atau Raja melawan kodrat kebenaran yang dipancarkan sang Khaliq, yaitu Ketauhidan.
Sebelum membahas topik godaan modernisasi dan tradisi budaya masyarakat yang bisa menggoyang kita menduakan Allah, perlu dipahami tauhid dalam kajian ilmu. Dalam keterbatasan kami, bahasan ilmu tauhid adalah tentang Allah SWT, yahni sifat yang wajib ada padaNya, yang boleh disifatkan kepadaNya, dan yang sama sekali ditiadakan dariNya. Kata taudid berasal dari bahasa Arab berarti “mengesakan”.
Tauhid adalah bentuk masdar (infinitif) dari kata kerja lampau wahhada yang merupakan derivasi dari akar kata wahda yang berarti: ‘keesaan’, ‘kesatuan’ dan ‘persatuan’. Dalam terminologi Islam, tauhid bermakna: meyakini bahwa Allah SWT itu esa dan tidak ada sekutu bagiNya, yang dirumuskan dalam kalimat Syahadat: Laa ilaha-illa-Allah (tidak ada Tuhan selain Allah).
Konteks inilah yang perlu kita kaji sehingga rutinitas masyarakat modern yang terampas oleh kemajuan zaman dan nilai-nilai logika, melupakan jati diri untuk menjaga ketauhidan bisa tereksplor pada tujuan dasar manusia. Sebaliknya, dengan keterbatasan rujukan memutuskan mata rantai adanya peristiwa, syiar, tradisi budaya yang keluar dari ajaran ketauhidan.
Tanpa sadar atau merasa paling benar, kita gampang menuduh orang-orang tertentu atau kelompok melakukan syirik (menyekutukan Allah) atau bid’ah (perbuatan yang tidak pernah dilakukan Rasulullah) tanpa belajar makna dari tauhid dalam dimensi ma’rifat al-mabda’ (keyakinan mempercayai pencipta alam, Allah YME sebagai wujud sempurna (mutlak), ma’rifat al-wasitah (mempercayai utusan Allah SWT sebagai utusan dan perantara Allah dengan umat untuk menyampaikan ajaranNya), dan ma’rifat al-ma’ad (mempercayai dengan penuh keyakinan akan adanya kehidupan abadi setelah mati di alam akhirat dengan segala hal ikhwal yang ada di dalamnya).
Kemampuan ilmu tauhid sebagai pondasi keimanan dan kepercayaan, yang tidak bisa hanya akal pikiran, namun kemantapan hati yang didasarkan pada wahyu (Quran dan Hadits) sehingga meredam dan menghilangkan keraguan atas ke-Esa-an, sifatNya, dan wujud Allah SWT.
Sebetulnya, di mana letak adanya kemusyrikan ketika momen Muharam atau Suroan digelar dengan selingan pengajian, ritual pencucian piandel (barang yang dianggap mempunyai faedah) atau dalam era modern kita malah jarang (melupakan) atas ikhtiar kita denganmensentralkan atas ridlo Allah.
Contoh, keberhasilan seseorang meraih kesuksesan dalam meniti karir lebih disimpulkan karena kepandaian dan kerja keras orang tersebut, bukan karena akibat dan ikhtiar dan kerja keras, Allah dengan sifatNya mengabulkan. Begitu pula, ketika kita menemui orang sakit, pernahkah terlintas bahwa sakit yang diderita merupakan sunnatullah, sehingga kita berikhtiar dan mencari usaha pengobatan agar si sakit diberi kesembuhan oleh Allah SWT.
Sebaliknya, kabar yang kita sampaikan ke tetangga atau kerabat yang datang membezuk, berkat penangangan dokter, resep obat yang mujarab sehingga pasien sembuh. Apakah ini bukan ingkar atas sifat dan nilai ketauhidan? Apakah ini bukan syirik?
Jujur, di era modernisasi arus informasi dan teknologi begitu canggih, coba anda menghitung (menghisap) amalan dalam sehari saja, berapa persen atau berapa lama untuk mengabdi kepada Allah SWT, bukan hanya ibadah mahdlah (ketentuan pasti, seperti salat, puasa, zakat) namun ammah atau ghairah mahdlah (perbuatan yang mendatangkan kebaikan dilaksanakan dengan niat dan ikhlas karena Allah SWT)? Tentu hanya kita sendiri yang mampu menyelami, kadar dan nilai-nilai amalan yang telah terangkum dalam prilaku dan perbuatan sehari-hari.
Pola kehidupan masyarakat modern sering menyepelekan fungsi mendasar dan tujuan akhir dari semua bentuk aktifitas manusia, yaitu pengabdian kepada Allah SWT. Kecenderungan kita menganggap enteng karena secara kebutuhan badaniyah merasa tercukupi.
Artinya, ketika mereka lapar maka segera mencari makanan, saat uang mereka menipis bisa mencari pinjaman atau mengambil uang di ATM, dengan perhitungan akal akhir atau awal bulan sudah terima gaji, bisa memenuhi belanja rutin di rumah, membayar tagihan listrik, air, tilpun, dan kredit yang menjadi tren masyarakat global. Kalau pun terkena serangan sakit, menganggap terlalu capai bekerja atau akibat salah makan.
Pernakah kita merenungi diri, bahwa ada multivitamin yang sering kita abaikan, sehingga kita cepat emosi, ketika ada masalah mendera kita gampang marah, menyalahkan orang atau menganggap di sekliling kita memusuhi? Adakah dalam benak kita, bahwa salat yang kita kerjakan selain bentuk menghamba kepada Allah SWT juga mampu menjadi pagar atas perbuatan yang keji dan mungkar. Bila perut terasa lapar, keinginan makan menyeruak, kalau tubuh sakit segera mencari obat, lantas kalau hati kita sudah suntuk, pikiran galau, apakah tidak membutuhkan makanan dan obat? Pada hakekatnya sama, kita juga harus mampu menyeimbangkan lahir-batin mendapat suplemen dalam mencari keridlaan.
Yang tidak kalah penting, keyakinan atas pengawasan dan penyadapan dari Allah melalui makhluk utusannya, seperti malaikat. Kita hanya sebatas menjawab, ya itu khan nanti kalau sudah mati, lantas bekal apa guna memastikan atas kematian kita?
Yakinlah dengan firman Allah SWT, kita bakal menemui kebahagiaan: “Kemudian jika datang petunjukKu kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjukKu niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS al-Baqarah: 38).
Ayat lain: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan, sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang yang berbuat baik.” (QS al-Ankabuut: 69).
Sebab, berbagai peristiwa menguncangkan akhir-akhir ini terutama skandal korupsi dan suap yang menima elit pejabat dari eksekutif, yudikatif dan legislatif tidak lepas dari peran aktif aparat penegak hukum seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penyadapan, pengintaian, hingga melakukan operasi tangkap tangan (OTT).
Mengapa manusia yang mengaku dirinya beriman, tidak menghiraukan adanya penyadapan dan visualisasi amalan kita secara lengkap, tanpa bisa ditambah dan dikurangi. Bahkan, di hari pembalasan nanti, mulut kita terkunci yang beri keterangan adalah tangan kita dan kaki kita menyampaikan kesaksian.
Kalau kecanggihan teknologi mampu menjawab keraguan dan sifat dusta tersangka koruptor karena dilengkapi alat-alat bukti yang cukup sehingga tidak bisa berkutik saat diseret ke meja hijau, pengadilan tindak pidana korupsi (tipikor). Bahkan, mampu mendeteksi adanya kebohongan dan kepalsuan, apakah manusia beriman masih ragu adanya kepastian pertanggungjawaban terhadap amal perbuatan yang kita kerjakan.
Maka terlalu sumir, kalau kita gampang menvonis rangkaian kegiatan di seputar Muharam atau Suroan yang terbungkus dalam tradisi budaya bentuk kemungkaran. Mari berzikir, puasa Asyura (sebelum dan sesudahnya). Perbanyak amalan kebaikan, memuliakan yatim-piatu, keluarga, sodaqah, menjaga kehormatan, dan segala perbuatan yang muaranya karena kekuatan Allah SWT.
Sekali lagi, yang patut diwaspadai adalah segala bentuk godaan yang tanpa disadari menyeret kita jauh dari Allah. Kecanggihan teknologi dan fasilitas serba wah jangan membuat kita lupa terhadap keseimbangan kehidupan. Kita sudah mendapat gambaran riil, hitam-putih dalam mengarungi bahtera dunia penuh ujian.
Dari pembahasan di atas, dan keterbatasan dalam bersikap atas berbagai peristiwa serta kejadian di sekitar kita, maka perlu ada rancangan dalam pemikiran dan keyakinan kita. Pertama, dalam situasi dan keadaan apapun, kita harus kembali kepada fitrah kita, yaitu untuk mengabdi. Ingat, keberhasilan yang telah kita pertontonkan di hadapan manusia belum menjadi atas keberhasilan kita kepada sang Khaliq.
Kedua, semua bentuk aktifitas dan kreatifitas manusia dapat dikategorikan sebagai amal saleh, bila tidak keluar dari bingkai ketauhidan, dan semata-mata karena Allah. Ketiga, sarana dan prasana merupakan komponen untuk memastikan adanya hubungan mutualisme, bukan sekedar sebab-akibat dalam menghamba kepada Allah SWT. Mudah-mudahan, di tahun baru 1442 H Covid-19 bisa hengkang dari bumi, karena kehendak Allah. Kita selalu mendapat perlindungan, hidayah dan rahmat Allah untuk menjunjung harkat dan martabat manusia sebagai khalifah di bumi. Muharam Mubarok. (*/ Makin Rahmat/ Habis)











Komentar