Muharam Mubarok, Tahun Baru 1442 Hijriyah Berselimut Covid-19 (1)
Oleh: H. Samiadji Makin Rahmat, SH., MH,
Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jawa Timur
SESUAI Kalender Hijriyah, tanggal 1 Muharam 1442 jatuh pada 20 Agustus 2020, di tengah perayaan bangsa Indonesia merayakan HUT (Hari Ulang Tahun) Kemerdekaan RI ke-75 dan ujian virus Corona (Covid-19) yang masih menyelimuti bumi pertiwi.
Sedang, kebijakan penentuan permulaan kalender Islam (tahun baru Hijriyah) dimulai bulan Muharam oleh Khalifah Umar bin Khattab al Faruq Radiyallahuanhu, bukan sekedar penghormatan terhadap Baginda Rasulullah SAW, hijrah (perjalanan atas perintah Allah) dari Mekah ke Yatsrib (Madinah).
Selain mempertegas nilai-nilai Ketauhidan, syiar strategi menata manusia selalu optimis dalam pengabdian, Rasulullah menempatkan pondasi keimanan dan bentuk pelayanan (pemerintahan) tidak boleh terpisah dari ketulusan dan keikhlasan menyeimbangkan tata kehidupan.
Dari beberapa kitab dan tarikh (sejarah) Islam menyebut, Khalifah Umar punya kepiawain dan kemampuan memadukan kemuliaan bulan Muharam, sebagai salah satu dari arba’atul hurum (empat bulan istimewa) sesuai firman Allah SWT yaitu Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharam.
Sayyidina Umar memahami rentetan sejarah panjang manusia-manusia pilihan yang tiada henti dalam berjuang mengagungkan asma (nama ) Allah untuk menjaga stabilitas bumi dan seisinya. Para pemimpin bukan bermodal amanah, Rasul, Nabi dan wali-wali Allah menyadari konteks pengabdian kepada sang Penguasa alam semesta.
Mengutip dari kemuliaan Muharam, maka tidak lepas dari rahasia Arsy (catatan langit), yaitu peristiwa-peristiwa maha penting yang bisa memotivasi kita dan cermin kegemilangan hamba Allah atas perjuangan yang gigih dan tabah dalam menegakkan keadilan dan kebenaran. Bisa disebut, penyesalan atas kebodohan manusia pertama Adam AS, hingga dikeluarkan dari surga, taubatnya diterima Allah pada 10 Muharam, yang biasa disebut hari Asyura.
Kemasyhuran lain, Nabi Idris diangkat derajatnya oleh Allah ke langit, Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahu, setelah bumi tenggelam selama enam bulan, Nabi Ibrahim al-Khalilullah terbebas dari rasa panas atas hukuman pembakaran raja Namrud. Allah menurunkan kitab Taurad kepada Musa AS, Nabi Yusuf keluar dari penjara dan Allah menyembuhkan Nabi Ya’cub dari kebutaan, Nabi Yunus selam dari ikan Paus selama 40 hari-malam, Nabi Musa diselamatkan dari kejaran Raja Fir’uan dengan membela laut Merah, Nabi Sulaiman dianugerahi ilmu dan kerajaan besar, dan Isa diangkat ke langit.
Sang Khaliq (Maha Pencipta) pun mengingatkan manusia atas keistimewaan dari Asyura, dengan sifat MahaNya, hari pertama Allah menciptakan alam, menurunkan Rahmat, menurunkan hujan, menjadikan Arsy, menciptakan Luh Mahfuz, menciptakan malaikat Jibril (panglima para malaikat). Artinya, titian sejarah Muharam sebagai permulaan tahun kalender Islam berdasar qamariyah (peredaran bulan) mempertegas adanya perbedaan dengan syamsiah (perhitungan matahari) dalam kisaran 11 hari selisih setiap tahun.
Hal terpenting lagi, secermat dan sedetail apapun rencana dan perhitungan manusia tetap harus mengakui Dzat Maha SegalanNya, sehingga kita patut terus berjuang dan menghitung-hitung perilaku kita.
Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam Al-Quran surat al-Isro’ ayat 14: “Bacalah kitabmu! Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisap terhadapmu.”. Peringatan Allah kepada hambaNya bukan gertak sambal atau bualan semata. Kembali kepada keyakinan dan kepercayaan kita terhadap ayat-ayat dan kalam Allah, semua tidak bisa terbantahkan. Manusia lah yang sering berbuat mungkar, mengabaikan atas segala petunjuk dan perintahNya.
Deteksi dini terhadap prilaku dan amalan kita, memang bukan sekedar evaluasi tahunan di bulan Muharam atau menunggu akhir tahun di bulan Desember, tahun masehi. Kita diminta untuk selalu mawas diri (maqarabah) dan instropeksi (muhasabah).
Di ayat 15 surat al-Isra’ lebih mempertegas lagi: “Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah) maka sesungguhnya ia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri, dan barang siapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan, seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum kami mengutus seorang rasul.”
Lantas bagaimana kondisi kekinian ditengah pagebluk, pandemic virus corona (Covid-19) yang masih menyelimuti bumi dan mengancam harkat kehidupan manusia? Ikuti tulisan lanjutan berikutnya. (*)











Komentar