Muharam Mubarok, Tahun Baru 1442 Hijriyah Berselimut Covid-19 (2)
Oleh: H. Samiadji Makin Rahmat, SH, MH, Ketua SMSI Jatim
SEJARAH panjang kemerdekaan Republik Indonesia merupakan rentetan perjuangan seluruh rakyat mendapatkan ridlo berupa Rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Rela mengorbankan tenaga, pikiran, harta benda, keringat darah dan nyawa demi hak hidup merdeka di bumi pertiwi.
Rongrongan Covid-19 memang bukan penjajah secara fisik yang terlihat mata yang sudah memporak-porandakan hajat hidup manusia. Namun, kegigihan, keuletan dan semangat membara tak boleh padam, agar bisa terbebas dari segala belenggu. Anak bangsa sudah menciptakan dan bereksprerimen dengan segala daya-upaya untuk memproleh vaksin bisa mengatasi problem pelik seluruh penguasa negeri. Bahkan, semua Negara di bumi ini mulai berikhtiar.
Apakah cukup dengan ikhtiar? Jelas, usaha bagian dari mengubah nasib dan bakal takdir yang menimpa manusia. Setidaknya, mengikuti protokol yang diputuskan melalui Gugus Tugas (Gusgas) Penanggulangan Covid-19, dengan wajib memakai masker wajah, cuci tangan dengan air mengalir, jaga jarak (physical/ social distancing) dan menjaga tubuh tetap fit.
Sayangnya, terkadang manusia terlalu pongah dengan rasa percaya diri yang berlebihan atau sebaliknya terlalu menganggap enteng ujian yang telah diturunkan Allah. Inilah bagian dari sunnatullah hidup di dunia.
Setidaknya, sejarah panjang para Rasul, Nabi, dan hamba pilihan tidak muncul sekonyong-konyong. Semua melalui proses ikhtiar, pengorbanan, dan perjuangan yang terus menerus (istiqamah). Kerja keras memeras otak, mengeluarkan otot dan tenaga, serta modal (harta) merupakan simbol pengabdian, bahwa sumber kelahiran, kematian, pendahulu dan akhir, serta muara dari segala simpul kehidupan adalah Rabb, Allah Azza wajalla.
Dan, karena Rahman-RahimNya, kita diberi keluasaan untuk menentukan garis menapak kehidupan. Termasuk kesungguhan kita melangkah ke depan, menentukan arah hidup dan nasib yang bakal menimpa kita.
Pernakah kita bertanya dan melakukan perenungan lebih, bahwa seringkali serangkaian ikhtiar dan cita-cita kita tidak sesuai dengan harapan dan usaha kita. Banyak, manusia yang berhasil dalam meniti karir, namun liku-liku yang dihadapi bertolak belakang, pendidikan di sekolah ekonomi malah menjadi seniman, menggeluti dunia kontruksi malah jadi pedagang.
Bila kita telaah lagi, bukan dalam permulaan usaha dan hasilnya, Allah sebetulnya telah menguji hambaNya dalam takaran yang sudah sesuai dengan bingkai kehidupan. Perubahan nasib, bukan pada jabatan, kedudukan, dan profesinya, namun keseriusan dan keikhlasan dalam mengabdi melahirkan kemandirian untuk selalu berpegang pada garis takdir. “…Sesungguhnya Allah tidak menrubah keadaan suatu kaum sehinga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS ar-Rad: 11).
Sekali lagi, karena kekuatan ikhtiar dan doa selalu berpasangan, pada momentum tahun baru, kita tanpa sengaja telah memperoleh buku raport kehidupan. Dan, kita lah yang lebih memahami dan mengetahui standar dan kompetensi kehidupan selama setahun, tetap dalam rambu dan sinyal pengabdian atau keluar dari tuntunan dan tatanan yang sebenarnya sanubari kita mampu menjawab, bahwa kita memang manusia lemah, dlolim dan sering berbuat khilaf. “Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat ia akan lebih buta dan lebih tersesat dari jalan yang benar.” (QS al-Israa’: 72).
Maka, beruntunglah kita yang masih sering mendapat panduan dan bimbingan dari ulama dan pemimpin yang mengingatkan untuk kembali ke jalan yang lurus. Sebagai bentuk ikhtiar, kita diharapkan memanjatkan doa, bentuk pengakuan masih adanya kekurangan dalam mengabdi, suburnya doa yang telah tumbuh menjadi benalu nestapa. Bahkan dengan keikhlasan doa kita, dendam setan untuk menjerumuskan anak-cucu Adam ke dalam kesesatan menjadi sia-sia.
Inilah arti doa yang umum dibaca dan terangkum dalam kitab panduan: “Dengan asma Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Mudah-mudahan tetaplah Rahmat atas junjungan kami dan pemimpin kami Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat beliau, demikian pula keselamatan Allah. Ya Allah, segala amal yang aku lakukan pada tahun ini (yang telah silam), dari hal-hal yang Engkau larang kepadaku, lalu aku tidak bertaubat, sedang Engkau tidak Ridla padanya, dan Engkau tidak melupakannya, dan menyantuni atasku sesudah kekuasaanMu atas siksa padaku, Engkau menyeru aku bertaubat darinya sesudah aku lakukan durhaka kepadaMu, maka bahwasannya aku memohon ampun kepadaMu, perkenankan Engkau mengampuni aku. Dan segala apa yang aku lakukan di dalamnya dari hal-hal yang Engkau Ridlai, dan Engkau menjanjikan pahala padaku, maka aku memohon kepadaMu ya Allah Dzat Yang Mulia, hai Dzat Yang Memiliki Keagungan, Kemuliaan, hendaklah Engkau terima dariku, janganlah Engkau memutuskan harapanku dari RahmatMu hai Dzat Yang Mulia. Shalawat dan salam tetapkanlah kepada junjungan kami, Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.”
Untaian doa di atas mengandung dua makna permohonan. Pertama, peleburan atas dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat dalam setahun. Kedua, mendepositokan amalam kebajikan sebagai gerbang membuka pintu rahmat dan tetap konsisten menyampaikan sholawat, agar wasilah Muhammad sebagai manusia agung sebagai garansi kesinambungan menabur kemaslahatan.
Pertanyaan mulai mengelitik, mengapa kehadiran bulan Muharam yang biasa disebut masyarakat Jawa Suro disertai dengan serangkaian kegiatan berbau mistik, mencuci gaman, keris dan barang piandel yang dianggap memiliki kharisma. Sekali lagi, ikhtiar dan doa apapun yang terbungkus dalam panduan menyongsong tahun baru hijriyah, semangat pengabdian menyadari lemahnya jati diri bisa menembus sinyal ketauhidan dan rasa menghamba kita kepada Allah SWT. Wallahu a’lam bish-showab.
Pandangan Ulama Khos, almaghfirullah Mbah Sholeh Darat, Waliyullah, menyampaikan berita dalam kitab Lathaifuth Thaharah wa Asrarus Shalah, mengupas tentang kemulian Muharam, disadur dalam dalam situs resmi NU, bahwa Muharam adalah awal tahun barunya umat Islam.
Maka, wajib bagi kita untuk mensyukuri nikmat kepada Sang Khaliq, termasuk keagungan tanggal 10 Muharam (Asyura) sebagai Hari Raya atas kemenangan para kekasih Allah dengan amalan baik (khasanah), terutama bersodaqoh dan menyantuni anak yatim.
Setidaknya, di tengah selimut Covid-19, usaha, ikhtiar dan doa harus menjadi saudara kembar untuk memburu hak pregratif Allah menentukan garis perjalanan hidup dan bumi sebagai tempat manusia berpijak sebagai pemimpin.
Semoga di bulan Muharam ini, dengan Rahman-Rahiim Allah Azza wajalla, memberi kita kekuatan, kesabaran, kesehatan, kegembiraan dan kebahagian untuk selalu menghamba kepada Sang Khaliq. Aamiin. (*/ bersambung)











Komentar