oleh

Hipnotis Penyair Firli ‘Sungai Musi’ dan Meutya ‘Srikandi Saraswati’

Malam Apresiasi Puisi RRI, HUT RI ke-75 “Indonesia Merdeka, Covid-19 dan Korupsi”

RUANG gerak untuk merdeka telah terbelenggu tersekat dinding ilusi dan fatamorgana. Pantomin handal, Septian Dwi Cahyo, sedikit membuka tabir, kondisi terkini Indonesia yang masih terpasung oleh virus Corona (Covid-19).

Dan, keengganan melantunkan gemerecik keyakinan, sebagai penerus perjuangan masih terombang-ambing di atas bintang. Tetesan embun pagi belum mampu mengundang matahari menyinari bumi, laksana malaikat yang tiada henti menyampaikan pesan suci.

Perjuangan panjang, dalam saksi bisu tak terucap, sentuhan kata terangkai dalam kata, tersusun padu dalam bait dan menjelma puisi menyampai fatwa pujangga. Inilah, perpaduan pembacaan puisi M. Rohanudin dengan penari berbalut busana merah, dengan topeng merah putih, sekedar menyampaikan berita para pujangga “Kemerdekaan, Corona dan Korupsi”.

Nyanyian pembuka Lagu Kebangsaan Indonesia Raya menyapa awal, sebagai bukti bakti anak negeri. Pujangga Angkasawan M. Rohanudin bukan sekedar menghimpun puisi dan sajak dalam “Bicaralah yang Baik-baik”, membaiat pada pergelaran Malam Apresiasi Puisi RRI, “Indonesia Merdeka, Covid-19 dan Korupsi”, Senin malam (17/8/2020) di auditorium Abdul Rahman Saleh RRI Jakarta.

Kepala suku Angkasawan dan angkasawati, sang pujangga melepas fatwa memuja menawan rupa. Menabur makna kemerdekaan. menyindir nyinyir Covid-19 dalam suka dan duka, dalam balutan amarah dan amanah. Memamerkan Pancasila Sejati dengan Ketuhanan Yang Maha Esa, karena Tuhan tidak mau disuap.

Pujangga atau bujangga adalah sebutan bagi para pengarang hasil-hasil sastra, baik puisi maupun prosa; ahli pikir; ahli sastra. pujangga juga sastrawan dan penulis.

Penyair penyiar pujangga Angkasawan, bercermin di rumah besar bernama RRI bahwa merah putih harga mati. Pembaca puisi berbaju putih, penari berbaju merah, bertopeng dua merah dan putih, bersyair bahwa kemerdekaan merah dan putih (kemerdekaan antara Corona dan korupsi). Pujangga Angkasawan bukan sekedar memuja menawan, tetapi menyatakan Indoensia masih negeri pujaan, Indonesia masih negeri menawan.

Baca Juga  Pendapa Kabupaten Kediri Diberi Nama Panjalu Jayati

Malam Apresiasi Puisi RRI, sebuah kampanye komunikasi bahwa merajut persatuan semenanjung bangsa Melayu butuh menenun dengan kata penuh arti, sajak penuh bijak, dalam perpaduan kontemporer, kontemplasi, dan kombinasi menyampaikan informasi begitu berarti untuk menjaga negeri, walau hanya membayar malam apresiasi puisi, dalam bacaan membumbung tinggi ke angkasa, membisikan ke seluruh nusantara, menyatukan hati anak negeri. Tetap memilih komunikasi sejati dari RRI.

Corona dan Korupsi dari Penyair Sungai Musi

Ketika tampil begitu piawai pada pergelaran “Malam Apresiasi Puisi” Indonesia Merdeka dari Covid-19, Merdeka dari Korupsi, penyair sungai Musi, melepas busur dari jantung hati anak negeri dari nagari Sriwijaya.

Komjen Pol H. Firli Bahuri, M.Si, melepas baju polisi dengan pakaian batik memantik, memerah membawa citra, merangkai warna kuning memadu malam hening.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), H Firli Bahuri, mempersembahkan karya suci sebuah gelombang besar membawa kabar, Indonesia Merdeka dari Covid-19 dan Indonesia merdeka dari korupsi.

Penyair sungai Musi ini, membawakan karya sendiri dengan menaruh hati kepada Bung Karno, meminjam nama Presiden Soekarno dalam bait-bait syair membangkitkan perjuangan anak negeri , hari ini dan masa kini bersama-sama melawan korupsi. Bersama-sama bersatu melawan Covid-19. Bersatu menjadi kekuatan utuh, bersama menjadi kekuatan utama.

Firli Bahuri sang penyair sungai Musi, membayar mahal malam apresiasi puisi dengan memberi kado, 75 tahun Indonesia merdeka dengan mengajak merdeka dari korupsi “Ayo! Jangan Korupsi”.

Baca Juga  Lahirkan Sang Proklamator, Mencetak Kader-Kader Militan Tiada Tanding

Penyair sungai Musi mampu meramu kata dan kalimat, bait demi bait, dalam alunan merdu syair seperti sang penyihir menghipnotis. “Ayo! Bersama-sama bersatu melawan Covid-19”.

Persembahkan agung karena satu kandung, dari penyair sungai Musi untuk negeri, Negara Kesatuan Republik Indonesia, bebas virus Corona, bebas virus korupsi. Merdeka.

Srikandi Saraswati Jelita Meutya Hafid

Tampil bak Srikandi tanpa busur dan anak panah, tetapi mampu memanah jauh dengan busur bait Saraswati karya M. Rohanudin, dengan lekuk-lekuk diksi terpatri, membawanya menari-nari.

Meliuk sejenak dalam memanah kata, mengikuti laju anak panah dengan diksi dan detak menghentak tanpa rentak, sang Srikandi Meutya selalu menjadi jati diri memberi selendang Saraswati semakin anggun, dalam aliran air mengalir memakai dewa air.

Saraswati Dewi sungai, Srikandi Meutya Dewi malam apresiasi puisi tanpa hentakan memberikan kabar, “17 Agutsus 1945 bangsa dan rakyat Indoensia mendengar kabar Indonesia merdeka dari RRI, 17 Agustus 2020, setelah 75 tahun merdeka mendengar kabar ‘Merdeka dari Corona’ juga dari RRI”

Menebarkan selendang sendang Saraswati seakan membawa kabar benar Covid-19, berhenti karena Srikandi Meutya Hafid melantunkan syair mengalir.

Tidak semudah membaca berita atau memandu sebagai presenter bagi mantan wartawan perang yang pernah disandera 168 jam di Rumadi, Baghdad, Irak. Tetapi sang Srikandi elok nan rupawati bersanding bersama Saraswati.

Lukisan Saraswati seakan hadir di atas panggung malam apresiasi puisi, ketika Srikandi Meutya seperti anak panah melaju kencang, berbelok-belok sakti mandraguna, dingin,sejuk, mengalir, memanah

INDONESIA ADALAH SARASWATI

Indonesia adalah saraswati

menunggang angsa menyeberangi laut teduh

di bawah bulan purnama “bulat perak”

angsa-angsa kecil ikut berbaris di belakangnya

dari jauh bulu-bulu mereka berkilau-kilau putih salju bayangannya menuding ke bumi

menggaris tegak lurus, menuliskan cinta yang agung, mengabarkan keperkasaan Indonesia

Indonesia adalah saraswati

tempat ibu menanak ilmu,

membentang dari sabang sampai merauke Indonesia adalah saraswati,

tempat padi tumbuh subur dan berbulir penuh tempat sungai mengalir deras berair sebening kaca tempat anak-anak bertanam dan menjaring akar-akar budaya

lantas menetaskannya dalam tempayan-tempayan kebermaknaan

di tepian pesisir

anak-anak bersorak-sorai menyambut kedatangan ayah meluapkan kegembiraan setelah semalam

membasuh muka “basah air laut”

diterkam ombak, memeluk erat setiap angin sakal

berkali-kali menyebrangi ombak

Saraswati berparas tak berpeluh tersenyum tak berkerut

berbedak sari melati tipis memancarkan Indonesia

berpantun kedamaian abadi

bersumpah palapa

sumpah gajahmada: akan melepaskan puasa

jika telah menundukkan seluruh nusantara,

di bawah kekuasaan majapahit

“Jika telah mengalahkan gurun seram tanjung pura,

haru butuni, pahang dompo, bali, sunda, palembang dan temasih”

amboi…

sungguh perkawinan saraswati telah malahirkan

anugerah Indonesia baru,

segerombolan elang terbang rendah dari utara

Saraswati berdiri tegak di atas bulan

sesekali menundukkan kepala sambil melambaikan tangan untuk ribuan elang

Saraswati, aku tak punya sayap untuk terbang mengejarmu

tapi senyummu menebar wangi madu

nusantara teduh walau jauh di awan lepas

kau payungi kami dengan bayangan rerimbun dedaunan

tak ada hati yang kosong

tak ada jarak yang terbentang walau kita jauh

itulah Indonesia yang sebenarnya

Indonesia yang tanpa darah dan air mata

Indonesia yang mengibarkan merah putih di dadanya

Indonesia yang beribu bernama pertiwi

(*/ Djoko Tetuko)

Komentar

News Feed