oleh

Ziarah di Makam Dr. Soetomo dan K.H. Mas Mansur, Ini Ungkapan Ketum Pemuda Pusura

SURABAYA, Kebersamaan yang dulu bagai budaya pemuda Surabaya semakin hari semakin luntur, dan bisa-bisa bakal hilang ditelan kemajuan jaman. Padahal, jiwa kebersamaan yang kuat itulah sala satu faktor menangnya arek-arek Suroboyo dalam pertempuran 10 Nopember 1945.

Kegalauan itu diungkapkan Ketua Umum Pemuda Pusura, Hoslih Abdullah, saat ziarah di makam Dr. Soetomo, di Kompleks Museum Gedung Nasional Indonesia, Jalan Bubutan Surabaya.

Disebutkan, Dr. Soetomo adalah salah satu pendiri Pusura. Organisasi ini ada di Surabaya. Pendirinya tokoh-tokoh nasional, tokoh pergerakan dan pahlawan nasional.

“Sifat-sifat kebersamaan arek-arek Suroboyo kini sudah terkikis. Kebersamaan, kegotongroyongan, dan jiwa sosial yang tinggi itu milik arek-arek Suroboyo dulu. Sekarang ini bukan habis, tapi sudah tidak seperti dulu lagi,” ujar pria yang akrab disapa Cak Dullah ini, Kamis (12/11/2020).

Baca Juga  Waspada Banjir, BMKG Prediksi Seluruh Jatim Diguyur Hujan Disertai Angin Kencang

Ia juga mengungkapkan, penting sekali mengenalkan generasi muda ke para pahlawan, termasuk di antaranya Dr. Soetomo. Sebab, Dr. Soetomo juga tokoh nasional sekaligus tokoh pergerakan bangsa yang patut diteladani.

“Kami komitmen dan konsisten untuk mengawal ini. Budaya arek-arek Surabaya memang harus kita tingkatkan, sehingga menjadi percontohan bahwa kebersamaan, gotong royong, persatuan dan kesatuan itu yang membuat kita menjadi kuat. Itu tugas Pemuda Pusura,” tegas Cak Dullah.

Cak Dullah juga menyampaikan bahwa Pusura kini tengah berencana mengajukan tanggal 10 November menjadi tanggal merah alias hari libur nasional. Usulan itu kini masih terus didiskusikan.

Baca Juga  Mendag Zulhas Segera Eksekusi Perintah Presiden Turunkan Harga Migor

“Sudah kami sampaikan kepada para sesepuh, diantaranya dengan Profesor Zaidun selaku Ketua Umum Pusura. Memang tidak gampang mengusulkan itu (menjadi hari libur nasional), tapi kami akan berjuang, karena 10 November bukan hanya milik warga Kota Surabaya, tapi nasional. Setiap 10 November, seluruh warga Indonesia memperingati Hari Pahlawan,” bebernya.

Saat ini Pemuda Pusura kabarnya telah mulai melakukan berbagai kajian. Mereka segera melakukan diskusi untuk mempersiapkan diri sebelum mengajukan 10 November jadi hari libur nasional.

“Kajian mulai kami laksanakan, mudah-mudahan bisa bersinergi dengan yang lain, yaitu Pemerintah Kota dan juga legislatif. Tapi tentu akan kami awali dari Pemuda Pusura,” terang Cak Dullah.

Baca Juga  Banyak Peluang Emas, Persemag Lawan Persiga Gagal Cetak Gol di Liga 3 Jatim

Dia menyatakan, ide ini bukanlah sesuatu yang berlebihan. Apalagi mengingat perjuangan dan pengorbanan para pahlawan untuk merdeka dan mempertahankan kemerdekaan dari para penjajah.

“Tentu ini tidak berlebihan karena pahlawan harus diingat dengan pengorbanan mereka, jiwa raga, darah, dan lainnya. Jadi, kenapa tanggal 10 (November) tidak dinikmati untuk memperingati Hari Pahlawan?” pungkas Cak Dullah, yang bersama rombongan langsung menuju Makam K.H. Mas Mansur untuk berziarah. Di makam ini, selain tabur bunga, mereka juga membaca yasin, tahlil dan doa bersama. (Red)

News Feed