oleh

Mengapa Pengajaran Bahasa Inggris di SD Terabaikan?

Oleh: Mochamad Makruf*

 SELASA (8/12), saya bertemu dengan Drs. Basori Alwi M,Pd. Dia adalah penulis buku pelajaran Bahasa Inggris SD yang sangat produktif. Orangnya biasa saja dan sederhana. Tapi siapa menduga dia sudah menerbitkan sekitar 400 buku pelajaran Bahasa Inggris SD. Salah satu karyanya yang terkenal Buku Bahasa Inggris, Let’s Talk English dan versi terbarunya Let’s Talk English in Thematic, untuk siswa  Kelas 1 sampai 6 SD.

Pak Basori, saya memanggilnya, juga masih aktif menjadi guru Bahasa Inggris di SDN Baratajaya, Surabaya. Berapa tahun dia mengabdi menjadi guru Bahasa Inggris? Sudah 28 tahun. Dan, Anda tahu statusnya masih guru honorer.

Ini salah satu bukti pemerintah Cq Kemdikbud sepertinya tidak serius terhadap pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat SD. Coba Anda cek  status guru-guru Bahasa Inggris di SD. Pasti sebagian besar statusnya  honorer. Tidak memandang itu pengabdiannya bertahun-tahun. Ini menyedihkan. Bahasa Inggris sepertinya hanya pelengkap penderita.

Dan, lagi kurikulum Bahasa Inggris di tingkat SD juga masih lokal bukan nasional seperti di SMP dan SMA. Maka standar buku-buku yang digunakan para siswa gado-gado. Ada yang baik dan banyak yang jelek.

Di tingkat SMP dan SMA pun juga meski ada buku kurikulum nasional masih saja terbit buku tandingan yang dikeluarkan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Buku kurikulum nasional malah masuk perpustakaan. Dan, buku versi MGMP malah dicetak lebih banyak. Tidak jelas apa maksudnya.

Balik ke SD, seharusnya pemerintah mulai serius menangani pembelajaran  Bahasa Inggris di tingkat SD. Kurikulum dinaikan menjadi nasional dan guru-guru yang mengajar harus diangkat menjadi pegawai negeri. Harus ada riset khusus mengapa kemampuan siswa SD sampai dewasa belum bisa berbicara Inggris lancar.

Saya berfantasi bila pemerintah serius menangani pengajaran dan pembelajaran Bahasa Inggris jauh-jauh hari, saya yakin akan memperkuat ekonomi nasional. Kok bisa? Apa ada hubungan bahasa dan ekonomi? Ada.

Baca Juga  Siberindo.Co Impian Membangun “Kapal Rakyat” Wartawan

Apalagi pemerintah menelurkan kebijakan  Bahasa Inggris sebagai  bahasa nasional kedua, hasilnya pasti dasyat.Katakanlah bila sekitar 50 persen penduduk Indonesia (2020: 260 juta) menguasai Bahasa Inggris, Indonesia pasti berubah menjadi negara super power di ASEAN bahkan Asia.

Tapi kebijakan Indonesia malah sebaliknya. Pemerintah melemahkan pengajaran Bahasa Inggris mungkin sejak 28 tahun lalu. Tidak memikirkan kurikulum Bahasa Inggris secara serius. Sehingga kurikulum tetap lokal. Efeknya buku yang beredar belum kurikulum nasional. Guru-guru juga masih honorer. Seperti dialami Pak Bashori

Saya tidak tahu mengapa ini bisa terjadi. Tidak ada bapak bangsa yang bisa memikirkan kekuatan bahasa bisa untuk memajukan negeri sejak dini. Mungkin karena sebagian para pemimpin fahamnya politik kekuasaan tapi memikirkan kemajuan bangsa.

Data terbaru  EF English Proficiency Index (EPI) 2020, Indonesia kategori low proficiency atau kemampuah Bahasa Inggris. Indonesia memperolah nilai 453 dan ranking ke 15 dari 24 negara di Asia.

Di tingkat dunia, Indonesia ranking ke-74 dari 100 negara. Ranking satu Belanda, kedua, Denmark, dan ketiga, Finlandia. Indonesia kalah dengan Singapura ranking ke-10, Philipiha (27) dan Malaysia (30), dan Vietnam (65).

Parah bukan? Karena  tidak ada yang memikirkan pengajaran Bahasa Inggris di SD. Pemerintah tidak turun tangan untuk riset dan bagaimana menemukan metode pengajaran bahasa Inggris yang efektif. Para siswa harus pandai berbicara dulu dan tidak berkutat dengan grammar dan vocabulary.

MODAL  BAHASA INGGRIS

Pagi hari di sebuah rumah makan halal di Bugis Street, Singapore. (foto/dok-pribadi)

Kebijakan pemerintah ini sangat berbeda dengan Singapura. Menurut data  EF English Proficiency Index (EPI) research, warga Singapura dewasa  memiliki kemampuan berbahasa Inggris terbaik ketiga dari 88 negara setelah  Sweden  dan Netherlands. Riset EPI didasarkan data 1,3 juta peserta test EF Standard English Test (EF SET) pada 2017. Kemampuan berbahasa Inggris warga Singapura ada kenaikan sangat significant dari tahun ke tahun sejak  2014. Pada 2020, data EPI, Singapura menduduki ranking ke 10.

Baca Juga  Mathla’ul Anwar, Muktamar, dan Khittah

Kesuksesan penguasaan Bahasa Inggris warga Singapura ini tidak terlepas dari peran Perdana Menteri Pertama Singapura, Lee Kuan Yew–yang memimpin negeri Singa ini mulai 1959 sampai 1990.

Mr Lee, panggilannya, percaya dengan mengharuskan warganya menguasai bahasa Inggris secara meluas akan menjadi kunci membangun ekonomi Singapura, pembangunan regional yang bisa berkompetitive secara global.

Sejak 1960, Mr Lee sudah mewajibkan sekolah dasar dan menengah menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah selain bahasa ibu, Mandarin, Melayu, dan Tamil.

Pada  1987, Singapura menjadi negara pertama yang mengadopsi bahasa Inggris untuk pengajaran beberapa mata pelajaran termasuk  matematika, science (IPA), dan sejarah.

Pada tahun 1980-an,  ada perubahan kurikulum pengajaran Bahasa Inggris menjadi  Communicative Language Teaching (CLT) yang fokus pada penciptaan konteks  authentic ( creating authentic contexts) di kelas di mana para pelajar  bisa praktek langsung berbicara bahasa Inggris dibanding sebelumnya hanya fokus pada mengerjakan latihan-latihan berbasis tata bahasa (grammar) dan kosa kata ( vocabulary).

Pada 1991, 2001 dan 2010 Kampanye belajar Bahasa Inggris dengan CLT terus digelorakan dan ada tambahan kampanye  “learning how to learn” melalui Inggris.

Pada 2011, Mr Lee, mendirikan English Language Institute of Singapore, yang bertujuan pengajaran  Bahasa Inggris lebih “excellence”.

Institute ini mempromosikan sekolah dan segala elemennya harus berkomunikasi Bahasa Inggris. Para kepala sekolah dan guru harus berkomitmen untuk mengembangkan skills para siswa berkomunikasi Bahasa Inggris.

Mr Lee memang merencanakan model membangun negeri Singapura yang unik mempertemukan timur-barat.  English dijadikan sebagai bahasa pengantar untuk bisnis tanpa meninggalkan bahasa ibu sebagai identitas Singapura.

Kini terobosan Mr Lee meraih sukses besar.Singapura menjadi kawasan perdagangan internasional dan global economic powerhouse dan  destinasi para pelajar  international  khususnya  negara ASEAN dan Asia  yang ini belajarEnglish and Mandarin.

Dr. Minh Tran,  Senior Director of Research and Academic Partnerships di EF Education First, mengatakan bahwa hanya beberapa negara di dunia yang pemimpinnya secara persisten dan sepenuh hati mendorong penguasaan bahasa Inggris untuk sebagai kunci kemajuen ekonomi dan identitas nasional.

Baca Juga  Tunggu Hitung Cepat, Real Count KPU, Kita Tetap Bersatu Oleh HS Makin Rahmat, Santri Pinggiran/ Ketua Umum "Abah Kita" (Wartawan Utama/ PWI)

“Salah satunya Mr Lee.  Sukses Mr Lee  memimpin Singapura tidak terbantahkan. Di balik kesuksesan ekonomi Singapura yang luar biasa saat ini salah satunya memajukan pengajaran bahasa Inggris,” katanya.

SINGLISH

Populasi Singapura saat ini lebih dari 75 persen China, sekitar  15 persen, melayu dan  8 persen, India (sebagian besar  Tamil), dan sekitar  2 persen suku lain. Namun separuh dari populasi tersebut kini berbicara  English (Singlish) di rumah.

Dan, Singlish adalah adalah bahasa nasional atau netral untuk berbicara dengan suku-suku berbeda tersebut. Maka Singlish adalah Bahasa Inggris  tercampur dengan dialek mandarin. Karena sebagian besar warga  Singapura adalah China. Ciri khusus  ada akhiran lah di setiap kalimat. warga mengakui Singlish adalah ‘bad English’ tapi meski demikian mereka tetap menggunakannya.

Pada 2007,  Rani Rubdy, peneliti  Singapore’s National Institute of Education menemukan bahwa meski para siswa SD berbicara Singlish dalam acara informal–namun mereka setuju Singlish adalah salah satu cara menuju mempelajari  ‘good English’. Warga juga mengakui Singlish tidak bagus untuk bisnis dan image negara.

PEMERINTAH TIDAK SUKA

Pemerintah Singapura tidak suka Singlish. Pada 1999, Lee Kuan Yew mengatakan,” Semakin banyak media menggunakan Singlish dan mempopulerkan melalui tayangan-tayangan  TV maka semakin banyak orang akan menggunakan Singlish.  Ini semua akan merugikan pada orang-orang terdidik  separuh populasi.”

Pada  2000, pemerintah meluncurkan program  Speak Good English Movement. Ini untuk mengurangi penggunaan Singlish. Perdana Menteri saat itu, Goh Chok Tong, mengatakan  “Bila mereka [generasi muda] berbicara  Singlish ketika mereka bisa berbicara  good English, mereka inintelah melakukan perbuatan yang membahayakan  Singapura.”

Bila Singapura bisa maju dengan modal Bahasa Inggris, kapan Indonesia?  (*)

*Wartawan Senior, Alumni  Australia-Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) 1993-94

News Feed