oleh

Atasi Kekeringan Musim Kemarau, Kades Lengkong Bikin Sumur Bawah Tanah

BOJONEGORO – Ancaman kekeringan di musim kemarau di Desa Lengkong, Balen, teratasi. Kebutuhan air untuk tanaman padi di sawah dapat dipenuhi oleh Pemerintah Desa, dengan membuat sumur bawah tanah.

Ide cemerlang ini digagas Achmad Sholikin, Kepala Desa (Kades) Lengkong, Kec. Balen, Kab. Bojonegoro. Menurut Kades, air bukan hanya sumber kehidupan tetapi juga sumber kesejahteraan bagi masyarakat petani di desa.

Sebenarnya tidak ada petani yang miskin, kecuali mereka gagal panen karena puso, kekeringan air sawah. Pada kondisi kekeringan itulah petani tidak memperoleh apa-apa dari hasil.usaha sawahnya.

Jika terkena serangan hama petani masih bisa mengusahakan dengan obat-obatan pertanian. Begitu pula jika persediaan pupuk menghilang dari pasaran sehingga mengakibatkan pemupukan tanaman padi berkurang, petani masih bisa panen meski produksi padinya menurun.

“Tapi kalau sudah kekeringan, tidak ada air di sawah, matilah tanaman padinya,” paparnya, kemarin (8/9/2020).

Atas dasar pemikiran itulah, Kades Lengkong tahun 2020 ini, langsung tancap gas. Meski dalam pandemi corona, Sholikin tetap fokus melaksanakan visi misinya untuk menyejahterakan warga.

Baca Juga  TNI Gelar Baksos Pembagian Sembako Kepada Masyarakat Terdampak Covid-19 Saat TMMD Ke 111

“Kisaran 70 persen areal desa berupa hamparan sawah, maka harus dikelola dengan baik, guna menjamin kelangsungan masyarakat dengan adanya air sawah. Alhamdulillah sudah ada 8 titik,” ulas Sholikin.

Dengan tersedianya air sawah, tersedia pula bahan pangan yang menjadi hasil produksi usaha pertanian masyarakat desa. Dengan produksi panen yang melimpah, kegiatan usaha perekonomian lainnyapun ikut terbangun. Tak ada kelaparan, tak ada kemiskinan, karena semua rakyat bisa bekerja.

Memang, sumur air bawah tanah sudah sejak lama dibuat oleh pemerintah untuk mendongkrak produksi pertanian, terutama padi. Namun yang membedakan sumur air bawah tanah Kades Lengkong ini, dengan sumur air bawah tanah pertanian lainnya, adalah sumber daya penggeraknya.

Sumur air bawah tanah proyek pemerintah digerakan oleh tenaga diesel. Sedangkan sumur air bawah tanah yang dibuat Kades Lengkong, seluruhnya menggunakan daya listrik.

Keuntungan menggunakan tenaga listrik, menurut Sholikin, adalah ketersediaan air dapat diusahakan tepat waktu dengan biaya operasional yang lebih murah dibanding menggunakan diesel.

Baca Juga  Hadapi Pilkada, Bawaslu Minta ASN Pemkab Banyuwangi Netral

Setiap 1 unit sumur bisa mengaliri 10 hektar sampai dengan 15 hektar dalam jangka waktu 4 hari. Sedangkan dalam satu hari penuh ( 22 jam ), untuk 1 unit sumur bawah tanah bisa memenuhi kebutuhan air sawah seluas 5 hektar.

Untuk satu musim tanam di musim kemarau, dibutuhkan 8 kali pengairan atau pengisian air sawah. Dengan produksi padi 1 hektar menghasilkan 7 ton gabah kering sawah.

Biaya pembuatan sumur air bawah tanah 1 paket kisaran Rp 40-50 juta. Tingkat kemahalan biaya lebih ditentukan oleh ada tidaknya jaringan listrik di persawahan. Biasanya kondisi inilah yang menjadi kendala dalam pembuatan sumur air bawah tanah tenaga listrik.

“Tapi meski pembuatan sumur dengan tenaga listrik lebih mahal namun jika dihitung secara rinci hingga satu tahun produksi sawah, biaya operasionalnya jauh lebih murah dibanding dengan tenaga diesel,” papar Sholikin, kepada netpitu.com.

Tingkat keberhasilan dalam pembuatan sumur air sawah ini menurut Sholihin, dalam mencari titik sumber air bawah tanah pihaknya melibatkan surveyor Geolistrik, drone, pemetaan geologi dan eksplorasi tambang, CV. Magma Karya Mustika, yang beralamat di Jepon, Blora.

Baca Juga  PWI, BPJS dan PT JGU Siap Bikin Rumah Bagi Wartawan

Agar tidak mengganggu keberadaan air sumur warga, maka kedalaman sumur minimal berada di 60 – 70 meter bawah tanah. Dari 8 sumur yang telah dibuatnya, rara-rara kedalaman sumur 64 meter hingga 68 meter.

“Pengeboran tidak dilakukan jika melebihi kedalaman 70 meter. Karena dikuatirkan air yang muncul dipermukaan adalah sumber air asin,” jelas Kepala Desa Lengkong, Kec. Balen, Bojonegoro, Achmad Sholikin.

Setelah berhasil memenuhi impiannya membuat sumur air bawah tanah, selanjutnya Pemdes Lengkong, tahun anggaran 2021 nanti akan melakukan pembangunan jaringan air irigasi sawah. Sehingga pemanfaatan air bawah ranah ini bisa maksimal.

“Syukur jika ada gelontoran anggaran dari Pemkab Bojonegoro, Pemprov Jatim atau Pemerintah pusat untuk membuat sumur, itu lebih baik lagi. Karena Pemdes Lengkong, bisa mengalihkan anggaran pembuatan sumur bawah tanahnya ke program pembangunan lainnya yang memang saat ini tengah dibutuhkan oleh Desa” pungkasnya. (ro/jtm-1)

Komentar

News Feed