oleh

Khofifah Silaturahmi dengan Majelis Agung GKJW, Napak Tilas Perjuangan Gus Dur di Balewiyata Malang

MALANG | Jatim.siberindo.co — Calon Gubernur Jawa Timur nomor urut 2, Khofifah Indar Parawansa, melaksanakan silaturahmi dengan keluarga besar Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) di Balewiyata, Kota Malang. Selain bersilaturahmi, Khofifah juga berdialog konstruktif dengan para pendeta, membahas pentingnya menjaga persaudaraan sejati dan membangun kesejahteraan Jawa Timur ke depan.

Ketua Majelis Agung GKJW Periode 2022-2025, Natael Hermawan Prianto, menyambut baik kedatangan Khofifah dan menyatakan rasa terima kasihnya atas kunjungan tersebut. “Kami berterima kasih Ibu Khofifah menyempatkan diri untuk bersilaturahmi dengan kami dan mengingat keluarga besar GKJW. Sebagaimana dulu beliau juga pernah hadir di sini,” ungkap Natael.

Dalam pertemuan ini, Natael menyebutkan bahwa silaturahmi Khofifah memberikan kesan mendalam dalam menjalin komunikasi yang baik, menjaga moderasi, serta menumbuhkan sikap toleransi di Jawa Timur. “Kami juga senang beliau punya semangat yang tinggi untuk merawat keberagaman dan persaudaraan, sebagaimana yang dirintis oleh Gus Dur,” tambah Natael. “Pengalamannya sangat komprehensif, tidak hanya pandai dalam perencanaan tetapi juga aktif turun ke lapangan. Ini modal penting bagi seorang pemimpin untuk membawa Jawa Timur lebih maju sebagai gerbang baru Nusantara,” jelasnya.

Khofifah, yang memiliki hubungan erat dengan Balewiyata sejak lama, menyampaikan bahwa tempat ini memiliki sejarah penting dalam membangun kerukunan dan persaudaraan di Jawa Timur. “Balewiyata, yang berdiri sejak tahun 1899, telah menjadi saksi bagaimana kerukunan dan persaudaraan sejati dirintis dan dibangun di Jatim,” ujarnya.

Tempat ini juga menjadi saksi sejarah ketika Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, mengajar di Balewiyata pada tahun 1974 hingga 1981. Gus Dur kala itu menyampaikan ajaran tentang persaudaraan sejati, toleransi, dan moderasi.

Khofifah turut menyampaikan sejumlah pandangannya mengenai berbagai masalah yang dihadapi masyarakat Jawa Timur, termasuk pentingnya komunikasi antarumat beragama untuk kesejahteraan bersama. “Di sini sangat terasa pentingnya membangun kesejahteraan melalui persaudaraan sejati antara umat beragama. Hal ini perlu terus diasah dan dikomunikasikan,” tegas Khofifah.

Dalam dialog tersebut, Khofifah juga menerima berbagai masukan dari para pendeta terkait sejumlah isu, seperti infrastruktur, masalah sosial, ekonomi, dan pertanian. Salah satu isu yang dibahas adalah penyiapan lahan pemakaman bagi umat Kristiani di beberapa wilayah. “Kami sempat berdiskusi soal pemakaman, khususnya mengenai lahan makam bagi umat Kristiani di beberapa daerah yang perlu perhatian lebih. Meski ini di bawah kewenangan kabupaten/kota, kami tak boleh menutup mata. Penting untuk mencari solusi efektif ke depannya,” jelasnya.

Selain itu, masalah penyalahgunaan Narkoba juga menjadi topik penting dalam pertemuan ini. Menurut Khofifah, perlu adanya kerja sama semua pihak untuk memerangi masalah ini demi menjaga kualitas generasi mendatang. “Kami sepakat bahwa penyalahgunaan Narkoba harus ditangani bersama, dengan melibatkan peran pemuka agama dalam upaya pencegahannya,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, Khofifah juga menyoroti persoalan infrastruktur di Jawa Timur bagian selatan. Ia menyoroti Jalan Lintas Selatan (JLS) yang menghubungkan Sendang Biru hingga Pacitan. Meski proyek utama JLS sudah selesai, jalur-jalur cabang atau “sirip jalan” masih memerlukan perhatian khusus. “JLS dari Sendang Biru ke Pacitan sebenarnya sudah rampung, tetapi sirip jalannya belum. Ke depan, ini akan kami koordinasikan agar bisa menjadi akses bagi kesejahteraan dan pengembangan wilayah Selingkar Wilis,” ujar Khofifah, menutup pertemuan dengan penuh harapan.

Silaturahmi ini memperlihatkan komitmen Khofifah dalam merangkul semua elemen masyarakat dan memperkuat kebersamaan antarumat beragama.

News Feed