Magetan | jatim.siberindo.co – Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti GOR Ki Mageti pada Kamis (05/03/2026). Melalui program Safari Ramadan 1447 H, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jawa Timur bersama Baznas Magetan menyatukan langkah untuk mengukir senyum di wajah 1.000 anak yatim.
Mengusung tema besar “Zakat Menguatkan Indonesia, Senyum 1.000 Anak Yatim”, kegiatan ini bukan sekadar seremoni rutin, melainkan wujud nyata optimalisasi dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dalam memuliakan mereka yang membutuhkan di bulan suci.
Ketua BAZNAS Jawa Timur, Prof. Dr. KH. Ali Maschan Moesa, menegaskan bahwa agenda ini merupakan instruksi langsung dari Gubernur Jatim. Targetnya ambisius namun mulia: menjangkau 18.000 anak yatim yang tersebar di 18 kabupaten di Jawa Timur.
“Jika dihitung secara keseluruhan, nilai bantuan yang disalurkan dalam rangkaian safari ini hampir mencapai Rp3 miliar,” terang Prof. Ali Maschan saat ditemui di lokasi acara.
Senada dengan itu, Ketua BAZNAS Kabupaten Magetan, KH. Sumarno Abdul Azid, merinci bentuk kolaborasi ini terdiri dari paket edukasi berupa tas sekolah dan alat tulis lengkap dari Baznas Provinsi, dan uang tunai sebesar Rp150.000 per anak, ditambah uang transportasi Rp25.000 dari Baznas Magetan.
“Setiap anak juga mendapatkan paket buka puasa bersama. Dari seribu mustahik terdiri dari 800 siswa SD dan 200 siswa SMP yang tersebar di 18 kecamatan Kabupaten Magetan, Jawa Timur,” jelas Ketua Baznas Magetan, Kamis (05/03).
Lembaga zakat tidak hanya berhenti pada bantuan konsumtif. Dalam kesempatan tersebut, KH. Sumarno memaparkan program unggulan seperti Keluarga Satu Sarjana (KSS) berupa bantuan Rp2 juta per semester selama 8 semester bagi keluarga prasejahtera yang belum memiliki anggota keluarga bergelar sarjana. Selain itu, bagi lansian yang hidup sendiri juga mendapat bantuan tunjangan uang sebesar Rp600.000 setiap bulannya.
“Jika ada warga yang hidup sebatang kara, silakan laporkan ke Baznas. Kami akan dampingi dan berikan bantuan rutin hingga akhir hayat mereka,” pungkas Prof. Ali Maschan menutup kegiatan dengan pesan kemanusiaan yang mendalam. (Rend)










